Indira duduk di balkon sambil menyeruput teh hangat, wajahnya berseri-seri. Adnan, dengan rambut sedikit acak karena baru selesai mandi, mendekat lalu memeluknya dari belakang. “Cantiknya istriku ini,” bisiknya serak. Indira tersenyum malu, menoleh, “Mas, jangan gombal terus.” “Tapi itu kenyataan.” Adnan mengecup keningnya. “Hari ini kita ke Ubud, ya? Aku mau ajak kamu jalan-jalan, lihat sawah terasering, terus sore kita spa berdua.” Hati Indira bergetar. Semua terasa begitu indah, seperti mimpi yang baru saja jadi nyata. Mereka berdua sedang larut dalam kebahagiaan yang akhirnya bisa mereka cicipi setelah perjalanan panjang penuh luka. Namun, jauh di Surabaya, suasana berbeda tengah berlangsung di rumah besar Oma Widya. Di ruang keluarga yang luas dengan jendela tinggi menjulang, su

