Matahari Surabaya baru saja terbit, menyusup malu-malu di balik awan tipis sisa hujan malam. Udara lembap dan dingin masih terasa, menempel di kaca jendela rumah sakit besar yang berdiri anggun di tengah kota. Di ruang rawat inap lantai tiga, suasana masih pekat dengan kelelahan dan kesedihan. Semalaman mereka berjaga, tak ada seorang pun yang benar-benar bisa beristirahat. Indira duduk di kursi samping ranjang, wajahnya pucat, mata sembab karena tangis yang tak henti sejak semalam. Ia tampak rapuh, tapi memaksa dirinya untuk tetap tegak. Di hadapannya, Mama Olivia bersandar lemas di sofa kecil. Perempuan paruh baya itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan tangis yang kembali pecah. Di sampingnya, Papa Banyu duduk dengan wajah muram, menepuk-nepuk punggung istriny

