Sore itu, cahaya matahari condong ke barat, menebarkan semburat keemasan di langit Surabaya. Di kediaman Oma Widya, suasana tampak berbeda dari biasanya. Gerbang tingginterbuka, memperlihatkan sebuah mobil yang berhenti tepat di depan teras. Dari dalamnya keluar seorang wanita paruh baya dengan wajah teduh—Tria, ibu Indira dan Yanna, sepupu Indira. Oma Widya yang sedang duduk di kursi rodanya tersenyum hangat, kedua tangannya merentang menyambut. “Tria … Yanna … akhirnya kalian datang juga.” “Assalamu’alaikum, Bu,” ucap Tria lembut, menunduk sedikit sebelum meraih tangan Oma Widya. “Wa’alaikumussalam,” balas Oma Widya dengan mata berkaca-kaca. “Aku senang sekali kalian datang.” Indira yang mendengar suara ibunya langsung tergopoh menuju ruang depan. Begitu melihat wajah Tria, matanya

