Bab 133. Mengatur Strategi

1434 Kata

Jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit ketika mobil hitam Adnan berhenti di halaman depan rumah Oma Widya. Lampu taman menyala lembut, menyoroti air mancur kecil di tengah halaman. Angin malam Surabaya berembus tenang, membawa aroma melati dari kebun belakang. Indira yang duduk di kursi depan menatap ke luar jendela. Perutnya terasa sedikit kencang, mungkin karena kelelahan dan tegang setelah peristiwa siang tadi. Ian, putra kecil mereka, tampak terlelap di kursi belakang dengan kepala bersandar di bantal kecil. Adnan membuka pintu perlahan. “Pelan, Sayang. Jangan bangunin Ian dulu,” ujarnya lembut. Baby sitter yang sudah menunggu di beranda segera mendekat, membantu menggendong Ian masuk ke kamar. “Biar saya yang urus, Pak Adnan,” katanya sopan. “Terima kasih, Mbak Rini,” balas A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN