... "Karena kuncinya belum lengkap," jawab Hendra lirih. "Hendratmo membagi kodenya menjadi dua. Satu padaku, dan satu lagi... ada pada Aurora. Tersembunyi di dalam mikrofon perak milik Elena yang sering kau gunakan dulu. Kunci itu aktif lewat pengenalan frekuensi suara unik milikmu saat menyanyikan nada tertentu yang hanya diketahui kalian berdua." Aurora tersentak. Ia teringat mikrofon perak itu. Mikrofon yang kini telah hancur bersama rumah di pulau Filipina. "Mikrofon itu sudah musnah, Pak Hendra," bisik Aurora, matanya berkaca-kaca. "Rumah itu meledak. Semuanya tenggelam." Hendra menggeleng pelan, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang kuyu. "Hendratmo tidak sebodoh itu. Dia menyembunyikan 'replika' sensor itu di tempat lain. Di sebuah teater tua di Jakarta yang sekarang sudah

