Bab 40: Tamu dari Masa Silam Pagi di Hobart selalu diawali dengan kabut yang menggantung rendah di atas dermaga, seperti tirai tipis yang menolak untuk disingkap. Di dalam rumah kayu itu, aroma kopi hitam yang pekat mulai memenuhi ruangan, bertarung dengan bau kayu pinus yang terbakar di perapian. Aurora berdiri di balkon kecil, menggenggam cangkir keramiknya dengan kedua tangan untuk mengusir dingin yang menusuk tulang. Ia menatap ke arah jalan setapak yang menurun menuju pelabuhan. Di sana, di bawah lampu jalan yang masih berkedip, mobil hitam itu kembali terlihat. Diam. Statis. Seperti nisan di tengah kabut. Pintu kaca di belakangnya bergeser pelan. Aditya keluar dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Ia tidak memakai jaket, hanya kaus hitam tipis yang memperlihatkan otot-otot len

