Bab 36

1286 Kata

Bab 36: Resonansi Luka Keheningan setelah pengakuan itu terasa lebih berat daripada kata-kata Aditya sendiri. Di dalam dekapan Aditya, Aurora merasa seolah-olah ia sedang memeluk sebuah bom yang bisa meledak kapan saja, namun anehnya, ia tidak ingin melepaskannya. Ia mulai memahami bahwa Aditya tidak hanya menculiknya; pria itu mencoba menculik takdirnya sendiri dari bayang-bayang Raden Wijaya. "Tidurlah," bisik Aditya, tangannya masih mengusap punggung Aurora dengan ritme yang menghipnotis. "Besok, aku akan menunjukkan padamu alasan lain mengapa kau harus tetap di sini." Namun, Aurora tidak bisa tidur. Pikirannya melayang pada Elena. Jika kamar ini adalah tempat Elena mengakhiri hidupnya, maka setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu dari keputusasaan seorang diva. Keesokan paginya,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN