Pagi itu London terasa sedikit lebih muram dari biasanya. Langit abu-abu, awan menggantung rendah, dan hujan rintik mulai turun menimpa jendela apartemen tempat keluarga kecil itu menginap. Albert duduk di ruang tengah, masih mengenakan piyama, dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin di tangannya. Pandangannya tajam menatap layar ponsel yang berkedip—sebuah panggilan dari kantor pusatnya di New York. Nada suara orang di seberang sana terdengar tegang. “Tuan Albert, kami mendapat kabar buruk. Ada masalah besar di perusahaan. Proyek investasi yang sedang berjalan mengalami kebocoran dana, dan tim keuangan tidak menemukan siapa pelakunya. Kami sudah berusaha menahan situasi, tapi para investor mulai kehilangan kepercayaan.” Albert terdiam, menatap kosong ke arah luar jendela yang mula

