Veronica masih duduk di meja rias apartemennya ketika pintu belakang *dibuka paksa*. Wanita itu terlonjak, hampir menjatuhkan parfum yang sedang dia pegang. “Siapa—” “Veronica.” Suara itu dalam. Sangat familiar. Sangat menakutkan. Veronica membeku. Albert berdiri di ambang pintu kamar tidurnya, tubuh tinggi tegapnya dibalut mantel hitam, dan tatapan matanya… dingin seperti es yang siap memotong kulit. “Albert… apa yang kamu—” Albert melangkah masuk tanpa izin. Menutup pintu dengan satu dorongan keras. Veronica memundurkan tubuhnya ke belakang, kaget, gugup, gemetar. “A… Albert, aku tidak menduga kamu—” “Cukup.” Suara Albert tajam seperti pisau. Veronica tersentak. Albert berjalan mendekat tanpa menurunkan tatapannya. Dari jarak tiga langkah, dia berhenti, lalu mengamati wajah V

