Victoria masih meringkuk di lantai sel yang dingin ketika pagi mulai merayap masuk. Rambutnya kusut menempel di wajah, napasnya terengah-engah seperti habis berlari jauh, dan kedua tangannya gemetar tanpa henti. Matanya merah dan kosong, menatap lurus ke depan seakan tidak lagi mengenali dunia di sekelilingnya. Teriakan panjang semalam, halusinasi ular piton, bau besi lembap, dan rasa takut yang menusuk tulang membuat pikirannya hancur perlahan. Ia tidak lagi berpikir jernih. Yang tersisa hanyalah ketakutan… dan dorongan terburuk manusia ketika sudah terpojok: ingin mengakhiri semuanya. --- Sekitar jam sembilan pagi, salah satu pengawal datang membawa makanan. Albert memerintahkan agar Victoria dipaksa makan apa pun yang terjadi. Tidak boleh ada seteguk air atau sebutir nasi yang dilewa

