Pagi itu, kampus terasa seperti medan pertempuran yang dingin. Luna berjalan melintasi quadrangle yang ramai, setiap langkahnya terasa ringan, anehnya tanpa beban. Ketenangan yang ia rasakan bukanlah ketenangan moral, melainkan ketenangan yang didapat dari kepastian mutlak. Setelah badai emosi dan klaim d******i Hayes di penthouse semalam, sisa-sisa perlawanan dan rasa bersalahnya telah hancur. Ia adalah senjata yang diasah, sepenuhnya loyal pada kendali Hayes, dan siap melaksanakan tugasnya: menghancurkan Axel. Ia mengenakan setelan bisnis sederhana yang menutupi jejak-jejak sentuhan Hayes yang masih membakar kulitnya. Ia tahu, penampilannya harus sempurna—mahasiswi cerdas yang fokus pada karirnya, bukan kekasih rahasia yang terhuyung-huyung keluar dari pertemuan terlarang. Tapi di bal

