Axel menatap Luna, seluruh idealismenya runtuh di hadapan ketenangan Luna yang mematikan. Ia baru saja menuduhnya dengan kejahatan terbesar—menjual dirinya pada ayahnya, pada kuasa yang paling ia benci—dan Luna hanya membalasnya dengan senyum dingin dan logis. Perpustakaan di sekitar mereka, yang seharusnya menjadi benteng ilmu pengetahuan dan kebenaran, kini terasa seperti medan perang yang penuh kebohongan. Axel telah memukul meja, tetapi yang hancur adalah keyakinannya sendiri. Meskipun Luna telah memainkan perannya dengan sempurna, ia merasakan sedikit goresan di hatinya. Itu adalah sisa-sisa Luna yang mencintai Axel, yang kini harus ia bunuh dengan kata-kata. Ia telah mengorbankan semua harapannya di altar Hayes. "Tidak," bisik Axel, suaranya kini dipenuhi keputusasaan yang lebih

