"Luna. Apakah kamu sudah tenang?" Suara Hayes dingin, tenang, seperti air es yang mengalir. Tidak ada jejak hasrat liar yang baru saja mereka bagi. Ia terdengar seperti seorang jenderal yang sedang menanyakan laporan medan perang yang kecil, tanpa emosi, murni perhitungan strategis. "Heum ... Ya, Hayes. Aku sudah kembali fokus. Tapi ... aku minta maaf sudah datang ke kantormu. Aku sangat panik. Apa yang akan Axel lakukan? Apa dia akan tahu?" Suara Luna gemetar, takut akan vonis Hayes. Kekhawatiran terbesarnya tetap Axel. "Axel tidak akan tahu apa-apa, Luna. Itu sudah menjadi urusanku. Aku sudah mengurus Daniel. Aku sudah mengurus leak kecil di koridor kantorku. Dan yang terpenting, aku akan mengurus Axel. Tidak ada yang luput dari kendaliku. Kepanikanmu hanya membuat pekerjaan ini

