Hayes mencium punggung tangan Luna, ciuman yang terasa seperti segel perjanjian yang mengikat. Di bawah pencahayaan ruang kerja yang fokus, Luna melihat janji itu bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pelepasan. Rasa bersalah Luna, yang tadinya mencekik, kini berubah menjadi rasa manis penyerahan. Ia merasa ringan, seolah beban tanggung jawab telah dicabut darinya. Ia tidak perlu lagi bertanggung jawab atas kebohongan atau masa depannya. Hayes telah mengambil alih kemudi sepenuhnya, dan kini, Luna hanya perlu menjadi penumpang yang patuh dalam perahu kendali Hayes. Hayes menatap Luna, senyumnya kini tidak lagi dingin, tetapi dipenuhi kemenangan yang menuntut. "Janji sudah dibuat, Luna. Sekarang, mari kita laksanakan denda atas keraguanmu di telepon tadi sore." Hayes tidak menungg

