Udara malam di atas kota terasa dingin dan tipis, tetapi di dalam penthouse pribadinya yang mewah, Axel Ludwig terbakar oleh panas amarah dan frustrasi yang tidak tertahankan. Setelah meninggalkan Luna di perpustakaan, Axel kembali ke sarangnya, meninggalkan Luna dengan senyum palsu yang berhasil ia ciptakan—sebuah topeng profesionalisme yang nyaris sempurna, namun di balik itu, Axel tahu ia telah kalah. Ia telah memiliki bukti visual yang menghancurkan di ponselnya: foto dan klip video Luna dalam pelukan Ayahnya di penthouse rahasia. Bukti yang seharusnya menjadi senjata pamungkasnya untuk membebaskan Luna, atau setidaknya menghancurkan narasi penyelamatan. Namun, di hadapan mata Luna yang dipenuhi air mata manipulatif dan alibi riset yang dikemukakan dengan lugas, Axel justru ambruk.

