H-1 ArtBeat adalah bencana kecil yang sedang tumbuh menjadi kiamat mini. Panggung masih setengah jadi, rigging terbuka, kabel menjuntai seperti akar-akar liar yang belum dipetakan. Dua vendor telat datang tanpa kabar, mixer sempat mati hidup, sementara lighting operator ngambek karena rundown berubah sepihak. Dan paling mengkhawatirkan—langit sudah mendung sejak pagi, menggantung rendah seperti ancaman tak terucap. Aruby berdiri di tengah aula, clipboard di tangan, rambut dicepol seadanya. Matanya menunjukkan ekspresi “gue di batas waras, tapi ayo gas terus.” Ia menahan napas, memindai ruangan yang berantakan seperti medan perang. Dari arah backstage, langkah Kairav terdengar cepat. “By! Kita ada masalah.” Aruby mendengus pelan tanpa menoleh. “Yang mana? Karena gue udah punya lima.”

