Perjalanan menuju rumah Sandira memakan waktu hampir dua puluh menit, tapi untuk Kairav rasanya jauh lebih panjang. Jalanan selepas maghrib dipenuhi lampu-lampu toko yang baru menyala, memantul di kaca mobil dan sesekali menyapu wajahnya seperti kilasan cahaya yang cepat hilang. Baskara duduk di samping kemudi dan Garvi duduk dikursi belakang. Keduanya tidak banyak bicara—mungkin karena tahu kepala sahabatnya itu sedang sesak. Semakin jauh dari kampus, bangunan-bangunan mulai berganti dengan deretan rumah besar yang berjajar rapi. Jelas area perumahan menengah dengan gerbang tinggi dan jalanan yang cukup lebar untuk dua mobil berpapasan tanpa harus saling mengalah. “Nomornya berapa?” tanya Baskara sambil maju sedikit melihat ke luar. “Lima belas,” jawab Kairav, suaranya rendah. Mobil b

