Koridor lantai dua Fakultas Komunikasi selalu punya cara sendiri dalam memadukan kekacauan dan keindahan menjadi satu irama yang anehnya justru menenangkan. Pagi itu, suara langkah mahasiswa terdengar bertumpuk—ringan, berat, tergesa, bercampur suara gesekam dari sepatu dan lantai yang saling beradu dan bisik-bisik mengenai deadline projek yang makin dekat, hingga bunyi notifikasi yang bersahutan dari ponsel-ponsel yang tak pernah istirahat. Di tengah keramaian itulah Aruby melangkah keluar dari kelas tepat pukul sepuluh pagi. Udara di lorong terasa sedikit pengap; hembusan AC yang tak merata membuat aroma parfum—manis, maskulin, tajam—berbaur menjadi satu. Ia merapatkan tas kanvas ke bahunya, menarik napas kecil, mencoba menenangkan diri. Hari ini, ia kembali memantapkan keputusan yang

