68. Yang Baru Saja Tumbuh

1245 Kata

Satu bulan lebih telah berlalu sejak malam yang menghancurkan itu. Bagi Kairav, setiap hari terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Ia menjadi lebih pendiam, lebih protektif, dan sering kali tertangkap basah sedang melamun oleh Aruby. Rasa bersalah itu tidak pernah surut; ia justru tumbuh menjadi parasit yang menggerogoti jiwanya setiap kali ia mencium kening Aruby atau mendengar tawa kekasihnya itu di markas ArtBeat. Suasana kafe di sudut kampus siang itu cukup tenang, khusus dipesan untuk sesi bimbingan kelompok Pak Haris. Kairav duduk di meja panjang bersama Nadira dan empat mahasiswa bimbingan lainnya. Di ujung meja, Pak Haris sedang serius mencoret-coret draf skripsi salah satu mahasiswa, sementara yang lain sibuk berdiskusi pelan atau sekadar merevisi draf masing-masing. ​Ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN