Jam baru menunjuk angka 06.04 pagi ketika Aruby sudah duduk di bangku tengah ruang 203, gedung Fikom. Kelas itu masih setengah kosong, hanya diisi suara kursi diseret, langkah tergesa anak-anak yang baru datang, dan aroma kopi sachet yang entah milik siapa menyebar dari pojok ruangan.
Udara pagi masih menggantung dingin, dan lantai koridor yang basah karena pel lantai dini hari tadi masih memantulkan bayangan neon putih. Dari jendela besar di sisi kanan, cahaya matahari baru muncul malu-malu di balik gedung rektorat, menyinari pepohonan di taman tengah kampus yang masih berembun.
Di luar, beberapa mahasiswa masih berjalan gontai sambil menenteng tumbler, ada yang sibuk menghafal materi, ada juga yang cuma menyeret diri dengan hoodie kebesaran dan wajah setengah sadar. Suasana khas kelas jam enam pagi — setengah manusia, setengah zombi.
Aruby menatap layar laptopnya yang belum juga menyala penuh, jari-jarinya mengetuk meja pelan tanpa irama. Sementara di depan, Bu Ratna, dosen Management Event, sedang sibuk menjelaskan konsep dasar perencanaan acara lewat slide PowerPoint bertuliskan:
“Step by Step Event Planning and Risk Management.”
Tapi otak Aruby jauh dari sana.
Suaranya Bu Ratna terdengar seperti gema jauh di lorong pikirannya yang malah dipenuhi potongan gambar dari semalam.
Bagaimana ia menatap Kairav begitu dekat.
Bagaimana pria itu mencium bibirnya yang belum pernah bersentuhan dengan bibir lelaki mana pun. Bagaimana ... suara pria itu turun separuh nada sebelum menegaskan, “Cuman gue yang boleh cium lo. Ngerti?”
Kalimat itu berputar ulang tanpa permisi di kepalanya seperti playlist rusak. Dan bodohnya, setiap kali mengingatnya, bibirnya refleks menggigit bibir bawahnya—seakan bisa menghapus sensasi hangat yang masih tersisa di sana.
Kairav, pria itu benar-benar ahli. Aruby akui itu. Padahal baru sesi pertama tapi sensasinya sudah berhasil membuatnya tidak bisa tidur nyenyak hingga pagi menyapa.
Selain itu, sesuai dugaan. Bibir itu juga sangat menggoda. Atau mungkin karena Kairav pemiliknya?
Saking tenggelamnya dalam lamunan, Aruby tak sadar sudah menatap kosong ke layar kosong selama hampir sepuluh menit sampai akhirnya sentuhan ringan di lengan berhasil membuyarkan lamunan Aruby.
“By...? Aruby?” bisik Sandira.
“Lo kok malah bengong, sih?” tanya itu terdengar pelan tapi cukup untuk membuat kesadaran Aruby kembali.
Ia tersentak kecil. “Hah? Nggak, gue dengerin kok.”
Padahal jelas—materi yang baru dijelaskan Bu Ratna tadi barusan tentang stakeholder analysis, dan Aruby bahkan nggak tau stakeholder-nya siapa.
Yang diingatnya hanya ... Kairav Mahasagara dan bagaimana cara pria itu memberikan les private pertamanya.
Sial.
Sandira memutar bola mata. “Dengerin apaan? Dosen noh udah ganti slide, lo masih aja bengong kayak patung pancoran.”
Lalu dengan nada menggoda, ia mencondongkan tubuh. “Atau jangan-jangan lo lagi mikirin Edo lagi?”
Aruby langsung mendongak, refleks. “Hah? Nggak!” jawabnya cepat, terlalu cepat malah.
Sandira menyipitkan mata, jelas makin curiga. “Serius? Soalnya sejak lo liat Edo di parkiran sama cewek itu beberapa hari yang lalu, muka lo tuh kayak cucian yang baru selesai diperas tau gak, sih. Kusut semrawut.”
Aruby pura-pura sibuk membuka catatan di laptop, padahal yang ia buka cuma file kosong. “Lebay lo, ah. Gue nggak mikirin Edo kok. Udah baik-baik aja kok gue sama Edo,” elaknya.
Padahal, sebelum berangkat ke kampus tadi mereka baru saja bertengkar karena Edo lebih memilih mengantar Imelda—mantan sialannya itu yang juga ada kelas pagi— daripada dirinya yang jelas-jelas pacar pria itu. Katanya, Imelda baru sembuh dan lebih butuh penjagaan.
Cih. Akal-akalan mantan gak tahu malu!
Kalau semua mantan tingkahnya kayak Imelda, mungkin pekerjaan ojek online sepi kali, ya? Soalnya customer lebih pilih menggatal ke pacar orang daripada jadi independent woman.
“Padahal gue berharapnya kalian putus. You deserve to get better sih, By,” tutur Sandira. Ucapannya jelas datang dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Sebagai salah satu orang yang sangat dekat dengan Aruby, dia tahu bagaimana perlakuan Edo pada temannya itu.
Aruby memaksa tertawa kecil. “Iya, entar gue pikirin gimana caranya minta putus dari Edo.”
Setelahnya, mereka kembali fokus pada dosen sebelum mendapat teguran. Meski begitu, meski berusaha untuk fokus, ada yang mengganjal dan seperti meminta pengakuan. Karena kenyataannya, bukan Edo yang mengganggu pikirannya.
Melainkan seseorang yang lain.
Seseorang dengan suara berat, tatapan gelap, dan tangan yang terasa terlalu panas saat menahan pinggangnya semalam.
Kairav Mahasagara.
Ketua tim produksi Artbeat.
Sekaligus… tutor ciuman dadakannya.
***
Begitu kelas pertama selesai, Aruby langsung melangkah ke arah kafe kampus. Ia berpisah dengan Sandira yang katanya ada janji temu dengan BEM fakultas. Gadis manis dengan potongan rambut sebahu itu memang lebih menyukai organisasi resmi kampus dibanding sejenisnya.
Berbeda dengan Aruby yang lebih menyukai dunia Artbeat.
Artbeat sendiri adalah UKM yang berfokus ke seni & musik. Ada band, dance, teater, dan lain-lain. Artbeat menjadi UKM yang dipercaya oleh kampus jika ada acara yang melibatkan seni & musik. Bisa dibilang mereka adalah jantungnya, kebanggaan Universitas Cendrawasih.
Terutama, Production Team Artbeat. Tim inti yang ngurus semua event panggung mulai dari rundown, lighting, sound system, sampai dekor. Otomatis jadi anak-anak yang selalu ada di balik layar, tapi justru menjadi tiang utamanya.
Dan, di sana lah mereka berada. Kairav, Aruby, Baskara, Shaila, Garvi serta Anasera. Tokoh-tokoh utama yang bukan hanya bekerja, tapi juga mencipta cerita.
Aruby memasuki bangunan yang setengah terbuka itu, dengan meja-meja kayu dan jendela besar yang menghadap taman. Mahasiswa dari berbagai fakultas berserakan di sana—ada yang diskusi, ada juga yang hanya rebahan sambil mendengarkan musik yang akhir-akhir ini sangat sering di putar dan digunakan di berbagai platform digital.
.Feast, Hindia, Lomba Sihir. Yang menurut penuturan banyak netizen vokalisnya digambarkan sebagai seorang psikolog yang menyamar menjadi musisi saking relate-nya lagu-lagu yang ditulisnya. Terutama untuk para mahasiswa tingkat akhir, katanya.
Aruby memilih duduk di ruang terbuka. Pada meja panjang yang cukup untuk diisi 6-8 orang. Padahal ia sendirian. Ia menyalakan laptop, membuka file desain publikasi ArtBeat yang belum selesai. Baru beberapa menit tenggelam dengan kesibukannya, notifikasi muncul di layar.
Kairav Mahasagara – Ketua Tim Produksi
By, di mana? Ketemu, ya. Gue belum terima hasil revisi lo semalem.
Aruby menatap layar, bibirnya mengerucut. Tunggu dulu deh, emangnya dia nggak punya hal lain yang bisa ditanyain selain revisi, ya? Seperti, “By, di mana? Kita harus lanjut les private sesi 2” atau “By, ke ruang 507, ya. Gue ada teknik ciuman baru” misalnya.
Yakali revisi harus selesai dalam semalam. Sekali lagi dalam semalam. Bandung Bondowoso kah gue ini?
“By?” Suara ceria dari belakang memecah fokus Aruby. Shaila, teman sejak SMA-nya itu datang dengan tote bag besar dan kamera tergantung di leher. Bajunya penuh bekas cat warna pastel—efek kelas produksi pagi tadi.
“Lo ngapain di sini sendirian? Nggak chat gue juga mau nongkrong di sini.”
“Ngerjain publikasi Artbeat. Sekalian ngopi,” jawab Aruby. Ia buru-buru menutup chat dari Kairav yang ... padahal isinya bukan apa-apa.
“Gue tadi mau chat lo tapi enggak sempet karena keburu buka laptop.”
Shaila melirik pada laptop Aruby yang terbuka. “Kenapa, sih? Abis dimarahin Mas Kairav lagi?” tanya Shaila sambil duduk tanpa izin.
“Bukannya kata lo, semalem udah aman?”
Aruby langsung menggeleng. “Enggak. Cuma… ya gitu, masih ada yang perlu gue revisi sedikit. Biasa lah.”
“Hmm.” Shaila menyipit curiga, tapi nggak nyambung ke hal yang lebih jauh. “Oh ya, Mas Garvi bilang anak Artbeat mau nongkrong sini juga. Sekalian bahas rundown pra-event, katanya.”
Belum sempat Aruby jawab, pintu kafe lebih dulu terbuka—dan seolah semesta merestui, orang pertama yang masuk adalah Kairav Mahasagara itu sendiri.
Dia datang bersama Baskara, Garvi, dan Anasera. Satu tangannya membawa map, satu lagi megang kopi s**u. Langkahnya santai, wajahnya netral seperti tidak pernah terjadi apa-apa semalam.
Kairav menatap sekilas ke arah meja Aruby dan Shaila, bibirnya menahan senyum tipis. Ia menyapa beberapa orang yang dikenalnya, lalu—tentu saja—memilih duduk di meja yang sama tepat di sebrang Aruby.
“Wah, lengkap nih,” kata Garvi sambil menarik kursi. “Kayak mini rapat versi santai.”
Anasera yang tadi tidak sengaja bertemu dengan gerombolan seniornya itu hingga bisa datang berbarengan, menaruh tote bag-nya. “Santai tapi masih bahas kerjaan? Nih, gue cuma mau makan, sumpah,” katanya seolah enggan membahas apapun di saat jam masih menunjukan pukul delapan tiga puluh pagi.
“Alah mana bisa, Na,” timpal Baskara datar. “Setiap nongkrong ujung-ujungnya pasti briefing juga.”
Shaila tertawa. “Bener. Tuh Mas Kai aja baru dateng udah bawa map. Nih orang emang nggak bisa chill.”
“Gue chill kok,” sahut Kairav tenang. “Cuma kebetulan ada orang yang revisinya belum dikirim.”
Tatapannya jatuh langsung ke Aruby. “Padahal gue temenin sampe tengah malem kemarin.”
Baskara dan Garvi auto saling pandang. “Wah apaan, nih? Katanya semalem lo cuman mau ambil charger laptop yang ketinggalan,” ujar Baskara sambil menyulut rokoknya.
“Kok jadi nemenin yang revisian, sih? Sampe tengah malem lagi. Ini gue ketinggalan info apa gimana? By?” Garvi menambahi, setengah menggoda Aruby.
“Ih enggak gitu! Nggak usah mikir kemana-mana ya, kalian!” tampik Aruby cepat. Wajahnya memerah antara malu dan marah.
Lagian, Kairav nih ngapain sih harus ngomong gitu segala? Ambigu kan jadinya! Aruby menggerutu dalam hati.
Kairav terkekeh pelan. Ia selesai mengetikkan sesuatu di keyboard ponselnya lalu meletakkannya di atas meja. “Gue nggak nemenin, sih. Gue nungguin soalnya butuh filenya cepet. Tapi malah nggak di kirim sampe sekarang.”
“Ada yang kurang. Sedikit lagi. Sabar,” katanya, menimpali ucapan Kairav dengan nada ketus. Matanya fokus pada layar laptop di hadapannya.
Kairav yang melihat itu kemudian bangkit, melangkah sedikit dan berdiri tepat di belakang kursi Aruby. Ia mencondongkan tubuh sedikit, satu tangannya terulur, menopang pada ujung meja sisi kiri Aruby, dan tangan kanannya refleks meraih mouse laptop gadis itu tanpa izin.
Bisa dibayangkan bagaimana posisi mereka saat ini. Tubuh Kairav yang besar melingkupi tubuh mungkil Aruby. Posisi tersebut, adalah posisi yang sama yang Kairav lakukan di ruang 517 tadi malam.
Dan itu, lebih dari cukup untuk membuat Aruby kesulitan untuk sekedar menarik napas.
“Kontrasnya terlalu lemah di bagian ini,” katanya, nada suaranya datar tapi fokus matanya bikin d**a Aruby sesak. “Coba ganti warna background jadi abu tua.”
“Kayaknya, ‘nemenin lembur’ semalem tuh menciptakan sesuatu ya, Kai?” goda Garvi lagi.
“Diam, Gar,” sahut Kairav pelan, tapi matanya masih di layar. “Jangan bikin gosip yang bikin salah satu penghuni neraka murka kalo sampe kedengeran.”
Garvi dan Baskara jelas terbahak. Shaila dan Anasera saling melirik geli. Mereka sangat paham dengan sarkasme yang baru saja Kaivan lontarkan. ‘Salah satu penghuni neraka’ yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Eduardo, pacar Aruby.
Entah siapa yang memulai, tapi mereka sepakat menggunakan istilah itu untuk Eduardo—Most wanted anak teknik yang sering membuat Aruby menangis.
Aruby akhirnya berdehem, mencoba melebur momen itu. “Udah, gue bisa sendiri kok. Nih, kayak gini, kan?”
Kairav menatap layar beberapa detik, lalu dengan refleks… menarik laptop itu sedikit mendekat ke arahnya, supaya Aruby tidak perlu menyenggol posisi duduk.
Tapi bukan itu yang bikin Aruby tertegun—melainkan cara pria itu yang tanpa sadar memindahkan minuman Aruby ke sisi lain meja supaya tidak terkena laptop, lalu mengambil tisu yang tersedia di meja dan mengelap percikan kopi kecil yang tadi tumpah di ujung keyboard. Gerakannya cepat, otomatis, dan… sangat tidak biasa.
Shaila yang duduk di seberang langsung menggoda. “Oke, itu—act of service level dua, guys. Gue saksi mata.”
Anasera ikut nimbrung. “Kayak scene di drama Korea. Bedanya, ini versi Artbeat.”
Garvi bersandar santai. “Udah gue bilang, lembur bareng tuh bisa menciptakan sesuatu. Pada gak percaya,” komentarnya.
“Tolong, ada yang rekam nggak? Biar bisa jadi teaser kita,” tambah Baskara.
Tidak ada yang waras diantara mereka.
“Gak sekalian dijadiin headline berita kampus aja?” Nada Kairav terdengar sarkas.
Membuat semua yang ada di meja itu tergelak. Kecuali Kairav dan Aruby.
Setelahnya, dia meletakkan tisu, menatap Aruby sebentar, lalu berkata pelan, “Udah, gak usah di dengerin.”
Aruby hanya bisa menatap. Ada sesuatu pada cara Kairav memandangnya—seolah memberikan hal yang kontras dari apa yang baru saja pria itu katakan.
Satu detik, dua detik, mata mereka saling mengunci. Lalu Shaila tiba-tiba menepuk meja. “Oke, siapa yang mau pesen makanan? Gue udah laper banget.”
Momen itu pecah seketika. Semua sibuk ribut pesen makanan, Garvi ngelawak, Anasera ribut soal topping roti, dan Baskara tetap jadi manusia paling tenang sedunia.
Tapi Aruby masih diam, sambil memandangi tisu putih di meja—masih menyisakan bekas noda kopi dan ingatan samar dari aksi kecil Kairav barusan.
Pasalnya, itu hal yang tidak pernah terjadi. Aruby ingat betul saat rapat sebulan yang lalu. Chika—sekteratis acara pada event itu— yang duduk tepat di samping Kairav, tidak sengaja menyenggol cup kopi yang sisa sedikit dan membuatnya tumpah ke kertas catatan.
Apakah Kairav membantunya? Tidak sama sekali. Bahkan mengambilkan tissue yang terpampang tepat di depan matanya pun tidak. Ia lebih memilih mengomentari, “Hati-hati dong, Chik. Bisa bahaya kalau kena proposal sponsor.” Sambil mengambil map berisi proposal sponsor yang berada di bawah kertas catatan itu, lalu menyerahkannya pada Judi, ketua humas Artbeat.
“Nggak lucu banget kalau Judi nyodorin proposal yang ketumpahan kopi ke sponsor,” katanya, alih-alih bersimpati.
***