Kairav masih mengetik sesuatu di ponselnya saat suara klik terdengar — Aruby menutup laptop miliknya dengan satu gerakan mantap. Kembali ia putar kursinya ke arah Kairav sambil menyilangkan tangan di d**a dengan ekspresi serius yang sedikit terlalu imut untuk konteks pembicaraan mereka sebelumnya.
“Oke,” katanya, datar tapi mantap. “Kerjaan gue udah kelar. Jadi… kita bisa mulai les privatenya, kan?”
Kairav menoleh pelan. Alisnya terangkat, ekspresinya seperti baru saja mendengar hal paling absurd malam itu. “Les… privat?”
“Yap. Sebutan karena lo akan mengajari gue ciuman.” Aruby menatap lurus, tanpa senyum, seolah yang ia maksud benar-benar mata kuliah tambahan. Tapi, tentu bukan dari dosen.
“Kan lo yang bilang tadi, kita bakal mulai dari dasar.”
Hening beberapa detik. Lalu Kairav menunduk sedikit, menekan tawa yang hampir lolos. “By, lo tau nggak kalau kalimat itu, kalau kedengeran sama orang lain, bisa bikin kita dipecat dari UKM?”
Aruby nyengir, tapi tetap nekat. “Makanya gue ngomongnya di sini. Di ruang paling aman se-fakultas.”
Kairav geleng-geleng, menatap Aruby seperti orang yang kalah argumen tapi masih berusaha waras. “Gue pikir lo bercanda waktu ngomong itu tadi. Makanya gue tanggepin.”
“Lo pikir gue punya waktu buat bercanda setelah liat pacar gue kayak gitu di parkiran sama mantan murahannya itu? Hah? Yang bener aja!” balas Aruby cepat.
“Gue serius, Kai. Gue pengen buktiin kalau gue juga bisa dan ngerti hal-hal kayak gitu.”
Kairav terdiam. Ia memandang Aruby lama, seolah menimbang apakah gadis itu beneran tahu konsekuensi dari kalimat yang baru ia ucapkan.
Lampu putih di langit-langit memantul di mata Aruby yang jernih tapi lelah. Kombinasi antara keberanian dan luka yang belum kering. Sangat manusiawi.
Ia bersandar di kursinya, menghela napas panjang. “Lo sadar nggak kalau yang lo minta itu—”
“Gue sadar.”
“Dan lo nggak takut?”
Aruby mengangkat dagu sedikit. “Kenapa harus takut? Ini kan cuma latihan.”
Kairav menatapnya lama, lalu senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Lo bahaya, By. Orang kayak lo tuh bisa bikin laki-laki waras mikir dua kali.”
“Lo bukan tipe yang gampang mikir dua kali, kan?” balas Aruby cepat, suaranya hampir terdengar menantang.
Sekali lagi, hening turun. Kairav mengusap wajah, lalu akhirnya menyerah. “Oke, lo bener-bener keras kepala. Tapi lo inget ya—tiga syarat. No perasaan, no drama, dan cuma di ruang ini.”
“Iyaaaaa Kairav Mahasagaraaaa.”
“Dan lo harus janji satu hal lagi.”
“Apa?”
“Kalau nanti lo jatuh cinta sama gue, lo yang tanggung jawab.”
Aruby spontan tertawa, tapi entah kenapa tawanya bergetar di akhir. “Lo pede banget, Kai. Kita liat aja nanti.” Matanya memicing penuh tantangan.
Kairav memiringkan kepala sedikit, suaranya menurun setengah nada. “Kita liat, ya.”
Lalu ia mencondongkan tubuh, tangannya naik perlahan, berhenti di udara sejenak sebelum menyentuh dagu Aruby. “Relax. Gue bilang tadi, napas dulu. Nggak usah tegang.”
Suara kipas terdengar lebih keras dari biasanya. Aruby menarik napas pelan, sadar betul kalau detik ini, ruang 517 nggak lagi terasa seperti ruang produksi, tapi lebih seperti ruang ujian—bedanya, yang diuji bukan kemampuan, melainkan keberanian.
Kairav menjauhkan tubuh, menyandarkan diri di sandaran kursi, kedua tangannya terlipat di d**a. Wajahnya serius — terlalu serius untuk seseorang yang baru saja resmi menjadi tutor ciuman. Ia tertawa geli dalam hati mengingat itu. Bagaimana bisa?
Tapi anehnya, dengan Aruby dia bisa.
Oke kembali ke fokus.
“Pertama,” katanya, dengan nada seperti dosen yang hendak membuka slide presentasi. “Ciuman itu bukan soal teknik doang. Lo harus tenang dulu. Kalau panik, lo malah kebingungan.”
Aruby yang duduk di kursi seberang, mengangguk polos sambil menggenggam ujung roknya. “Oke. Jadi... harus tenang.”
“Yes. Terus...” lanjut Kairav, mencondongkan badan sedikit, “lo harus tahu ritmenya. Nggak usah buru-buru. Nggak usah kayak di film yang lo tonton tengah malam.”
“Ih gue nontonnya siang,” sela Aruby cepat.
“Apalagi siang,” Kairav menghela napas, lalu nyengir kecil. “Pokoknya jangan mikir soal balas dendam dulu. Fokus aja ke sensasi.”
“Sensasi?”
“Ya. Kalau lo nggak ngerasain sensasinya, ya percuma. Itu cuma… nempel bibir.”
Aruby terdiam, memproses tiap kata seperti anak bimbingan baru yang takut salah langkah meski baru di bab latar belakang. “Terus… langkah praktikum-nya gimana?”
Kairav menatapnya lama. “By, lo sadar nggak betapa absurd-nya pertanyaan lo barusan?”
“Ya lo kan tutor. Gue muridnya.”
“Ya tapi ini bukan soal—” Kairav menjeda kalimatnya. Seperti sedang mencari kalimat yang pas untuk di katakan. Namun sialnya dia tidak menemukannya.
Aruby memutar mata, tapi senyumnya tipis. “Udah, gue udah ngerti teorinya. Langsung praktik aja.”
Kairav menarik napas panjang, lalu mencondongkan tubuhnya mendekat tepat di depan Aruby.
“Lihat gue,” katanya pelan.
Aruby menurutinya. Ia menatap wajah tampan Kairav, lalu fokus pada bola mata hitam legam milik pria itu, lalu berpindah pada bibirnya yang terlihat begitu menggoda dan seketika membuat Aruby lupa cara bernapas.
“Relax.”
“Gue udah relax.”
“Lo ngomong sambil nahan napas, By.”
Aruby mendengus, lalu mencoba bernapas lebih pelan. Tapi ketika tangan Kairav menyentuh sisi kursinya, tubuhnya otomatis menegang lagi.
Kairav tersenyum samar. “Gue nggak bakal makan lo, By.”
“Cepet deh sebelum gue berubah pikiran,” gumam Aruby pelan.
Dan sebelum kalimat itu sempat tenggelam di udara, Kairav menutup jarak di antara mereka. Awalnya hanya ringan — sebuah sentuhan singkat, nyaris seperti iseng. Tapi Aruby refleks menahan napas lagi.
Kairav menarik diri lalu menatap Aruby dengan ekspresi geli.
“By,” bisiknya, “kalau lo nahan napas, nanti lo pingsan.”
“Gue nggak nahan napas,” sangkal Aruby, jelas-jelas bohong.
“Lo bahkan ngomongnya sambil ngos-ngosan.”
Kairav menggeleng, lalu mencondongkan diri lagi. “Coba lagi. Ikutin ritme napas gue.”
Kali ini, ciuman itu lebih pelan. Lebih hati-hati. Seperti dua orang yang masih belajar mengenali bahasanya masing-masing. Tidak ada yang terburu-buru, tidak ada yang sepenuhnya tahu apa yang mereka lakukan — tapi di antara canggung dan bingung itu, ada sesuatu yang berubah—keheningan yang biasanya dingin jadi terasa hangat.
Cukup lama bibir keduanya bersentuhan. Sebelum kemudian, Kairav mundur sedikit. Napasnya berat tapi matanya masih menatap lurus.
“Gimana rasanya?” tanyanya, suaranya serak tapi santai.
Aruby terdiam. Lalu dengan wajah merah padam, ia menjawab, “Emmm, hangat. Terus lembut juga.”
Kairav menahan senyum. Jawaban Aruby benar-benar sangat lugu dan polos. “Berarti tutor lo cukup bagus, ya?”
Aruby melotot, mencoba menutupi degup jantungnya yang kacau. “Belum tentu. Bisa aja muridnya yang jago.”
Kairav terkekeh. “Kita liat aja nanti, By. Les privat baru dimulai soalnya.”
Dan, Aruby memicingkan matanya. “Gue enggak sabar nunggu sesi-sesi selanjutnya sampe gue jadi pro kisser.”
Kairav masih menatap Aruby dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya ucapan itu lolos begitu saja seolah tidak ada bahaya di sana.
“Lo sadar nggak sih kalau lo baru aja ngasih first kiss lo ke gue?” suaranya berat tapi terdengar geli, seolah masih tidak habis pikir.
Aruby seperti tersadar lalu perlahan menyentuh bibirnya sendiri. Ada jeda panjang yang menggantung di udara, diisi detak jam dinding dan napas mereka berdua yang belum juga stabil.
“Hmm...” gumam Aruby pelan, tapi mantap. “Maka dari itu, lo harus bikin ini worth it, Kai. Jangan sia-siain pengorbanan gue barusan.”
Lihat? Alih-alih menyesali, Aruby malah berpikir lain.
Kairav nyaris terbahak. “Pengorbanan, katanya.” Ia bersandar di kursi, menatap Aruby dengan gaya malas tapi bibirnya menahan senyum yang gagal disembunyikan.
Kairav menatap mata itunlama. Masih ada sisa senyum di bibirnya, tapi matanya kini sedikit berbeda—lebih dalam, seolah berusaha menetralkan sesuatu yang baru saja muncul.
“Worth it, ya?” ulangnya pelan, suaranya agak serak karena tawa yang tertahan. “Lo bahkan belum tahu apakah gue kisser yang bagus atau enggak.”
“Ya makanya,” Aruby bersandar santai ke kursinya, memiringkan kepala dengan senyum jahil. “Tapi gue percaya sih kalau lo tuh bukan cuman good tapi perfect kisser.”
Aruby kembali memicingkan matanya. “Enggak mungkin cowok yang suka gonta-ganti gandengan kayak lo gini nggak pro ciuman,” balasnya cepat, terdengar seperti menantang tapi juga menggoda di waktu bersamaan.
Kairav mendesah kecil, lalu menatapnya lekat. “Lo tuh... bener-bener, ya?”
Ia menggeser tubuh sedikit, jarak mereka kini terlalu tipis untuk disebut aman. “Lo tau gue terkenal suka ganti-ganti gandengan, perfect kisser, dan lo nggak ngerasa bahaya berurusan sama gue, By?”
“Bahaya apanya? Ini kan buat penelitian pengalaman doang,” sahut Aruby, sok serius—membuat Kairav nyaris tersedak tawa.
Tapi sebelum Kairav sempat menimpali, Aruby sudah lebih dulu mencondongkan tubuhnya. Ekspresinya menantang, rambut panjangnya yang bergelombang di ujung, menggantung. tapi oh—ada yang lebih menarik.
Wajah itu, mata coklat terangnya, hidungnya, bibir mungilnya ... ia seakan baru menyadari kesempurnaan yang begitu nyata di hadapannya.
Cantik, puji Kairav dalam hati.
“Ini kita lanjut lagi gak sih, Kai?” ujarnya tanpa beban. “Masa cuma gitu doang ciumannya.”
Seakan kedadarannya dikembalikan, Kairav menatap gadis itu dalam-dalam. Separuh tak percaya, separuh terpancing.
Ia memainkan rambut Aruby yang menggantung. “Lo sadar nggak sih, lo tuh kayak lagi ngajak orang main api, By?”
“Yaudah, lo jadi apinya, gue jadi bensinnya. Gimana?”
“Aruby.” Nada suaranya turun, rendah dan berat, hampir seperti peringatan. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang retak—antara logika dan godaan.
“Tenang aja, Kai,” bisik Aruby sambil menatapnya tepat di mata. “Gue kan cuma mau belajar. Bukan jatuh cinta.”
Dan sebelum Kairav sempat berpikir lebih jauh, ia menarik pinggang Aruby, membuat gadis itu hampir kehilangan kendali jika saja lututnya tidak bertumpu pada ujung kursi Kairav dan tangannya yang refleks menahan di kedua bahu seniornya itu.
Posisi mereka terlalu dekat. Terlalu berbahaya.
Aruby sadar itu. Namun, ia juga tidak bisa mundur lagi. Dia harus membalaskan rasa sakitnya pada Edo, meski untuk sampai di sana, ia harus terlibat dalam sesi paling gila yang pernah ia lakukan.
“Lo masih punya kesempatan buat mundur, By.” Di tengah jarak yang nyaris meniadakan udara, Kairav berusaha tetap jernih.
Namun, dengan cepat Aruby menggeleng. “Lo udah ambil first kiss gue, loh, ya. Enak aja nggak mau tanggung jawab!”
“By?!”
“Kai, kalau lo enggak mau bantu gue, it’s okay. Gue akan cari orang lain—”
Belum sempat Aruby menyelesaikan kalimatnya, bibir Kairav lebih dulu menutup bibir mungil itu.
Ciuman itu tidak selembut sebelumnya—lebih dalam, lebih tegas, seolah Kairav sedang menegaskan batas yang baru saja Aruby coba langgar. Ia menekannya lama, hingga Aruby hampir kehabisan udara.
“Jangan coba-coba buat nyari orang lain,” desisnya saat melepas ciuman itu. Matanya menajam, tapi nadanya nyaris bergetar.
“Gue bakal ngajarin lo. Dan cuma gue yang boleh cium lo. Ngerti?”
***