Sore itu, cahaya matahari yang mulai memudar menerobos masuk melalui celah jendela ruang 517—markas besar ArtBeat yang kini terasa begitu hening dan asing. Aruby berdiri di ambang pintu, membiarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang seolah menjadi lemari penyimpanan bagi ribuan fragmen masa lalu. Ruangan ini bukan sekadar tempat rapat rutin bagi para anggota ArtBeat, melainkan sebuah saksi bisu atas perjalanan hatinya yang kini ia sadari hanyalah sebuah cerita yang penuh luka. Pandangannya tertuju pada salah satu kursi di sudut ruangan, dan seketika ingatannya terlempar pada malam di mana ia terpaksa lembur setelah mendapat omelan tajam dari Kairav mengenai layout panggung. Ia ingat betul bagaimana Kairav juga hadir di sana, mengisi sunyinya malam dengan aura dominannya yang

