Ruang 517 sudah jauh lebih senyap dari biasanya. Sisa-sisa kesibukan festival masih terasa samar di udara—bau lakban, kertas, dan kelelahan yang manis. Lampu ruangan tinggal setengah menyala. Hanya Aruby dan Kairav yang masih bertahan, duduk berseberangan sambil merapikan sisa laporan di laptop masing-masing. Aruby menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap langit-langit. “Habis event ini bener-bener selesai nanti… gue pasti bakal kangen banget deh sama ruangan ini.” Kairav melirik, satu alisnya terangkat. Aruby melanjutkan, suaranya lembut tapi tulus. “Ya, emang sih bakal tetep ada kehidupan dan projek yang berjalan. Tapi vibes-nya tuh beda nggak sih antara ngerjain project micro sama makro?” Kairav menutup laptopnya pelan, lalu memundurkan kursi. “Tapi emang euforia tiap kali abi

