Rapat malam itu, berakhir tanpa benar-benar berakhir. Suara kursi yang bergeser, tumpukan kertas, derap langkah dan dengus napas kesal jadi satu-satunya musik pengiring di ruang 517 malam itu. Satu per satu anggota ArtBeat mulai meninggalkan ruangan—dengan wajah lelah, bahu berat, dan kepala penuh sisa debat. Beberapa bahkan masih saling melempar lirikan tajam, ada yang mencibir pelan, ada yang diam-diam menepuk bahu teman satu divisinya seolah berkata “udah, sabar aja.” “Masih mau di sini, Kai?” tanya Baskara sebelum beranjak. Ia menyampirkan tas ranselnya di salah satu bahu. “Iya. Lo balik duluan aja. Adek lo sakit kan katanya?” Baskara mengangguk. “Ya udah gue duluan, ya,” katanya sambil menepuk bahu sahabatnya itu. Ia menjadi yang keluar paling akhir, menyisakan suara pintu yang

