Lampu neon berwarna ungu dan biru berpendar redup, memantul di atas meja-meja kayu yang dipenuhi gelas-gelas kaca. Bar itu tidak terlalu ramai, namun dentuman musik house yang diputar sang DJ sudah cukup untuk menggetarkan d**a. Kairav duduk di tengah keriuhan itu, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Pikirannya jauh melayang pada Aruby, membayangkan kekasihnya yang mungkin masih berkutat dengan tumpukan literatur bersama Sandira. “Kai, santai dikit kali! Aruby nggak bakal lari, tugasnya emang lagi gila banget, kan?” Sena berteriak di samping telinga Kairav sembari mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. “Malam ini kita ngerayain Juna yang ulang tahun dan akhirnya nggak jomblo lagi!” Fano yang duduk di sebelah Sena ikut menimpali sembari tertawa. “Iya, Kai. Lo dari tadi liatin

