39. Kairav Datang di Saat yang Tepat

1878 Kata

Coffee shop itu awalnya ramai seperti biasa—suara barista yang memanggil nama orderan bersahut-sahutan dengan denting sendok, gemerisik kertas struk, dan aroma kopi yang memenuhi ruangan dengan kehangatan yang akrab. Namun, di tengah keramaian itu, meja yang ditempati Aruby dan Sandira seolah menjadi ruang yang terpisah, seperti ada dinding tak terlihat yang membuat sudut kecil itu terasa lebih sunyi dibanding bagian lain ruangan. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena semua suara yang ada justru menggantung di sekitar mereka, tertarik oleh gosip yang menyebar lebih cepat daripada aroma espresso baru disajikan. Dan sejak kabar itu meledak di grup angkatan, atmosfer tempat itu berubah drastis—seolah ada angin dingin menyusup melalui celah-celah pintu, menggantikan kehangatan yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN