Andrew duduk di ruangannya dengan wajah merah padam, tangannya menghantam meja hingga suara kayu bergetar keras. Beberapa gelas di atas meja hampir jatuh berhamburan. Matanya merah penuh amarah, urat di lehernya menonjol, dan napasnya terengah kasar. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang-orangnya yang sudah disusupkan ke rumah Ardi dan Raisa ternyata tidak bisa mendekati Sarah satu jengkal pun. Setiap gerakan mereka selalu terbaca, setiap usaha untuk memanfaatkan celah selalu digagalkan. Semua itu membuat Andrew merasa dipermainkan, seolah orang-orang yang seharusnya dia kendalikan malah seperti boneka tak berguna. "Bagaimana mungkin kalian tidak bisa melakukan satu hal sepele ini?!" teriak Andrew, melempar asbak ke arah dinding hingga pecah berkeping-keping. "Aku sudah mengatur se

