Lorong rumah sakit terasa semakin dingin ketika Sarah duduk menunggu kedua mertuanya tiba. Setelah Fiona keluar dari ruang rawat inap dengan penuh ancaman, tubuh Sarah masih gemetar. Nafasnya pendek, wajahnya pucat, dan matanya penuh kegelisahan. Ia terus memeluk Alvano yang kebetulan sedang ada di pangkuannya, seakan hanya dengan cara itu ia bisa merasa lebih kuat. Tanpa berpikir panjang, Sarah segera menelepon Raisa dan Ardi. Suaranya parau dan panik. “Mama, Papa… tolong cepat datang ke rumah sakit sekarang. Aku… aku takut ada apa-apa. Tolong cepat.” Raisa langsung bangkit dari sofa rumah, wajahnya pucat mendengar nada suara menantunya yang bergetar. “Ada apa, Sarah? Kamu kenapa? Apa yang terjadi?!” Namun Sarah hanya menjawab singkat dengan suara menekan tangis. “Mama cepat saja ke si

