107 | Di Balik Selimut

1805 Kata

Aku juga tidak mengerti, tetapi rasanya sangat pasti. Bahwa aku menginginkanmu malam ini. . . Benar, Cely menangis kena omel maminya. "Biarin aja, biarin. Abisnya Kakak susah banget dibilangin." Bukan masalah cokelatnya, tetapi perihal izin yang selalu datang belakangan daripada melakukan segala sesuatunya. Ini memang masalah sepele, entah itu perkara cokelat, es krim, atau main tanah. Nah, masalahnya kalau kebiasaan itu berlanjut hingga nanti dewasa, bagaimana? Kan, bahaya! "Huwaaa ... Papiii!" "Sama papi juga pasti dimarahin karena Kakak kayak gitu terus!" Mars melihat Cely berdiri di dekat pintu, air matanya berjatuhan setetes demi setetes, lalu bibirnya melengkung ke bawah dan sesekali terisak-isak. Sementara, Tania masih getol mengomeli putrinya. "Sekarang Mami tanya, Kakak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN