Selesai makan malam, Yurika masih bisa merasakan sisa hangat sup krim yang baru saja mereka santap bersama. Meja makan bersih, suara alat makan sudah tak terdengar. Lampu gantung di atas mereka menyala lembut, memberi suasana hangat seperti rumah-rumah dalam drama yang Yurika sering tonton diam-diam. Namun, satu hal membuat Yurika bertanya-tanya. Wajah Erik terlihat sedikit berbeda malam ini. Ada binar di matanya, ada senyum yang ditahan, seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu. “Mas, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Yurika saat Erik menarik kursinya berdiri. Erik tidak langsung menjawab. Ia berdiri lalu mengulurkan tangan ke istrinya. “Ayo, ikut aku sebentar.” “Ke mana?” “Ke ruang kerja.” Yurika mengernyit. “Lho, ini sudah malam. Mau kerja apa lagi?” Erik han

