Langit senja menyelimuti gedung Candra Group. Lobi kantor mulai dipadati oleh karyawan yang bersiap pulang. Beberapa di antara mereka sudah berdiri menunggu ojek online, sementara yang lain bercengkerama ringan sambil menunggu teman-teman mereka turun dari lantai atas. Namun di antara kerumunan itu, seorang pria dengan jas abu gelap tampak mencolok. Erik Candra. Ia berdiri tenang di sisi sofa tunggu. Posturnya tegak, wajahnya seperti biasa: tenang dan sedikit serius. Tetapi siapa pun yang memperhatikannya cukup lama akan sadar, mata pria itu terus mengarah pada satu titik—lift. Beberapa karyawan mulai berbisik pelan. “Eh, Itu Pak Erik? Kok tumben nongkrong di lobi?” “Lho, iya bener! Ngapain beliau di lobi jam segini?” “Nungguin seseorang kali. Tapi siapa ya?” Tak lama, suara lift b

