Yurika duduk diam di ruang pemeriksaan. Jari-jarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Napasnya berat, dan mata beningnya memandang ke satu titik tak pasti. Di sebelahnya, Erik memeluk bahunya lembut, memberikan kehangatan yang ia butuhkan. “Santai, Sayang. Apa pun hasilnya, kita hadapi bareng.” Yurika mengangguk pelan, meski hatinya berdebar tidak karuan. Beberapa menit kemudian, dokter kandungan masuk, tersenyum ramah. Ia membawa hasil pemeriksaan darah dan USG. “Selamat, Bu Yurika. Bapak Erik,” katanya sembari menunjuk monitor. “Janin ini usianya sekitar enam minggu. Detak jantungnya sudah ada. Sehat, tapi Ibu harus banyak istirahat. Nampaknya kehamilan ini cukup sensitif, jadi jangan dipaksakan aktivitas berat dulu.” Yurika tertegun. Erik membeku satu detik sebelum akhirnya be

