Siang itu, Yurika kembali dari kantin dengan langkah ringan. Di tangannya tergenggam sebotol air mineral. Suasana kantor sedang santai, sebagian besar staf memilih makan siang di pantry atau ke luar kantor, membuat lorong-lorong terlihat lengang. Begitu tiba di ruangannya, langkah Yurika terhenti. Di atas mejanya—yang sebelumnya rapi hanya berisi laptop dan dokumen kerja—kini berdiri seikat bunga mawar merah segar, kopi hangat dalam cup bertuliskan namanya, dan kotak makanan kecil dengan pita emas yang dililit anggun di sekelilingnya. Alis Yurika mengerut. “Ini… apa?” Belum sempat ia duduk, dua kepala muncul dari balik punggung. Naura dan Saida yang sebelumnya juga pergi makan, tiba-tiba masuk dengan senyum menggoda. “Duh, duh, duh... romantis banget sih, Boscil,” goda Naura sambil me

