Ruang kerja Bakti Tandi terletak di lantai atas—tempat yang sama dengan ruangan CEO dan para direktur perusahaan berada. Di dalam ruangan, duduk seorang wanita dengan wajah kesal dan tak sabar: Malika. Ia sudah menunggu hampir setengah jam. Sepatu hak tingginya mengetuk-ngetuk lantai marmer tanpa irama, hanya menunjukkan gelisah yang ditekan. Malika bersandar ke sofa kulit dengan gaya malas, tapi matanya waspada ke arah pintu. Ketika akhirnya terdengar bunyi ‘klik’ dari gagang pintu, tubuhnya langsung menegak. Pintu terbuka, dan Bakti Tandi masuk. Pria itu tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya. Wajahnya kusut, kerutan di dahi semakin dalam, dan matanya merah seperti kurang tidur. Jas abu-abu yang dikenakannya tampak lecek, dasinya sedikit miring. Namun, sebelum ia sempat d

