Berjalan dengan Masa Depan

1141 Kata

Zarin, sang anak tunggal, sejak awal tak pernah benar-benar lahir sebagai individu—melainkan sebagai harapan yang dipaksakan, sebagai perpanjangan mimpi sang Mama yang tak pernah berhasil diwujudkan. "Papa kamu itu! Selingkuh lagi sama mantannya yang aktris itu. Kalau aja dulu Mama gak hamil kamu, Mama yang jadi bintang, bukan dia!" Ucapan itu membekas, menghujam seperti sembilu. Zarin bukan anak yang ditunggu dengan cinta, melainkan ganjalan pada jalan karier sang Mama. Jika disebut sebagai bentuk gangguan jiwa, mungkin benar—karena ibunya mencintai suaminya lebih dalam daripada mencintai anak yang ia lahirkan sendiri. Dan Zarin kecil tumbuh dalam kehausan. Demi setetes perhatian dari sang Mama, ia menyeret dirinya masuk ke dunia gemerlap yang bahkan tak pernah ia sukai. Ia berharap, s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN