Penerimaan, Bukan Pengampunan

1283 Kata

Memang Dara dan Jedidah yang salah. Mereka terlalu fokus dengan segalanya—perjalanan, kerjaan, bahkan pernikahan yang tertunda—sampai lupa kalau dua anak mereka belum benar-benar paham apa arti punya adik. Sekarang, hasilnya: Noah menempel di pangkuan Dara seperti koala kecil, matanya bengkak, isaknya masih tertahan, dan jemari mungilnya tak lepas dari perut bundarnya. “Sudah, sayangku… lelah ya? Matanya sampai bengkak, Nak. Sudah jangan menangis lagi.” Dara mengusap pelan rambut anak itu yang sudah mulai lembap oleh keringat dan air mata. “Ap, Buuu… app…” gumam Noah, wajahnya menunduk, malu-malu tapi tersedu. “Eh, minta maaf untuk apa?” Dara mengecup dahi anaknya. “Kalll… ku akalll…” ucap Noah lagi, seolah mengakui bahwa dirinya nakal dan tidak pantas disayang lagi. Biasanya Dara pua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN