Extra Part 15

1846 Kata

Dara terbangun, kali ini sudah siang. Sinar matahari yang hangat menyusup dari celah tirai tipis, menari-nari di dinding kamar, sementara angin laut membawa aroma asin yang khas dan menenangkan. Tubuhnya terasa hangat, letih, dan kosong sekaligus penuh. Ia mengedip perlahan, menyadari bahwa dirinya masih telanjang, berselimut seprai kusut yang menjadi saksi bisu dari pagi penuh cinta yang baru saja dilewatinya bersama pria itu—pria yang membuatnya lupa bagaimana cara bernapas normal. Perutnya keroncongan. Dara mengerang pelan, memeluk perutnya yang kosong tapi sedikit tegang—efek dari terlalu banyak "disesaki cinta" oleh suaminya yang selalu bersemangat ketika pagi datang. Tidak melihat Jedidah di sampingnya, ia bangkit pelan dan meraih handuk, lalu melangkah menuju kamar mandi. Di sana,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN