"Mas..." Dara menggoyang pelan bahu Jedidah yang terlelap di sampingnya. Pria itu bergumam pelan, kemudian membuka mata. "Kenapa, Sayang?" Dara duduk menyilangkan kaki, wajahnya cemberut tapi matanya berbinar. "Tiba-tiba aku pengin makan ayam betutu. Tapi harus kamu yang bikin, ya. Boleh, ya?" Jedidah memejamkan mata sejenak, lalu mengusap wajahnya yang masih setengah mengantuk. "Tengah malam begini? Sayang, ini jam berapa..." "Mas, kamu gak tahu gimana rasanya tiba-tiba kepengen banget. Ini demi anak kita loh," rengeknya sambil mendorong bahu suaminya manja. Jedidah tertawa kecil, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Dara. "Tapi cium dulu, baru ayahnya masak." "Ih! Perhitungan banget! Aku tuh istri kamu, hamil anak kamu!" "Iya, makanya... cium dulu," ulang Jedidah, kali ini memejamk

