Memang benar apa yang Arunika duga. Selama di pulau itu, waktu seolah kehilangan bentuknya. Siang dan malam tidak lagi terasa berbeda yang ada hanya pergantian cahaya di balik dinding kaca, dari terang ke senja, lalu gelap, lalu kembali terang lagi. Dan di antara semua itu, mereka nyaris tidak benar-benar keluar dari ruang yang sama. Kamar, kamar mandi, hingga balkon yang menghadap laut, semuanya menjadi saksi bagaimana jarak di antara mereka benar-benar hilang. Awalnya Arunika masih menyisakan penolakan, tubuhnya terlalu lelah untuk mengikuti ritme Mahadewan yang tidak pernah tampak kehabisan tenaga. Namun hari demi hari, ia tidak lagi sekadar bertahan. Ada momen di mana napasnya mulai mengikuti, di mana tubuhnya tidak lagi menolak, melainkan… menyesuaikan. Dan justru di situlah ia meras

