Pagi itu, Arunika terbangun perlahan, tubuhnya terasa hangat dan berat dalam cara yang aneh. Matanya belum sepenuhnya terbuka ketika ingatan semalam kembali datang satu per satu dari napas yang bertaut, kulit yang saling bersentuhan, keringat yang membuat segalanya terasa terlalu dekat. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, merasakan sisa-sisa kelelahan yang masih tertinggal di tubuhnya. Mahadewan… pria itu benar-benar tidak pernah terlihat lelah. Sementara Arunika, bahkan untuk sekadar bergerak pun masih harus mengumpulkan tenaga. Ia akhirnya bangkit, menyadari dirinya masih tanpa pakaian, lalu dengan cepat meraih bathrobe yang tergantung di sisi ranjang. Kain lembut itu melingkupi tubuhnya, memberi sedikit rasa aman. Saat menoleh ke samping, ia mendapati tempat di sebelahny

