Hari itu terasa lebih santai bagi Arunika, Mahadewan, Candra, Cakra, dan Eyang Adipati. Tidak ada agenda yang dimulai terlalu pagi, tidak ada suara tergesa-gesa dari staf rumah, dan tidak ada Noelle yang biasanya memenuhi ruang makan dengan pertanyaan kecilnya. Anak itu sudah berangkat ke sekolah lebih awal bersama pengasuh dan sopir pribadinya, membawa tas kecil, bekal, dan janji akan pulang siang untuk menunjukkan hasil mewarnainya pada Arunika. Maka, meja sarapan besar di kediaman Jagat pagi itu terasa lebih lapang, lebih tenang, meskipun justru ketenangan itulah yang diam-diam membuat Arunika merasa tidak aman. Matahari sudah naik cukup tinggi, cahayanya jatuh melalui jendela panjang, menimpa permukaan meja kayu mahal yang dipenuhi hidangan roti hangat, telur, salad, sup bening, bubur

