Puncak Kejutan

1906 Kata

“Eum… duh, sakit,” keluh Arunika pelan saat kesadarannya perlahan kembali. Kepalanya terasa berat, tubuhnya seperti kehilangan tenaga, dan pandangannya masih sedikit buram. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengenali langit-langit di atasnya. Bukan plafon rumah Jagat. Bukan penthouse. Ini… kamar kost Restika. Ia langsung mencoba bangun, duduk dengan gerakan pelan sambil memegangi kepalanya. Nafasnya sedikit terengah, dan saat ia menunduk, ia menyadari pakaiannya sudah berganti dengan kaus longgar dan celana pendek yang jelas bukan miliknya. Matanya langsung bergerak ke arah jam dinding. Pukul sepuluh malam. “Ini… ketiduran kah?” gumamnya lirih, suaranya masih lemah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Restika. Kos itu terasa sepi, hanya suara kendaraan dari luar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN