Aku membaca selembaran kertas yang disodorkan oleh Rakha. Surat perjanjian nikah dengan tertera nama lengkapnya dan juga lelaki itu. Aku tak menyangka, akan mendapati surat perjanjian begini pada malam pertama pernikahan kami. Aku pun membaca poin-poin pada surat tersebut. Tentunya isi surat itu sudah tertebak olehku, yang dibuat oleh Rakha sesuka hatinya saja dan aku tak boleh membantah apa pun.
1. Pihak Pertama akan bertanggung jawab penuh atas nafkah lahir & bathin.
2. Pihak Pertama tidak memiliki kewajiban memberikan kasih sayang, perhatian, ataupun hubungan emosional sebagai suami.
3. Kedua pihak akan tinggal dalam satu rumah selama masa pernikahan berlangsung demi menjaga citra keluarga di hadapan keluarga besar, publik.
4. Pihak kedua tidak berhak mencampuri urusan pribadi Pihak Pertama.
4. Pihak Kedua tidak diperkenankan meninggalkan pernikahan ini tanpa persetujuan Pihak Pertama.
5. Pihak Kedua tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan lelaki lain selama pernikahan ini berlangsung.
6. Pihak kedua tidak boleh menolak melakukan hubungan suami istri, termasuk hamil dan memiliki anak.
7. Pihak Kedua wajib membersihkan rumah dan memasak tanpa alasan apa pun.
8. Apa pun yang diperintahkan oleh Pihak Pertama, Pihak Kedua tidak boleh membantah.
9. Perjanjian ini berlaku selama pernikahan berlangsung atau hingga Pihak Pertama memutuskan akan bagaimana akhirnya.
Aku terkekeh kecil membaca poin-poin pada surat tersebut. Memangnya aku bisa apa selain menerima? Termasuk di sana juga tertulis tentang melakukan hubungan suami istri, hamil, hingga memiliki anak. Pertanyaan yang menggema di benakku, bagaimana bisa dia ada kepikiran tentang sebuah kehamilan dan anak, padahal sangat membenciku? Punya anak dari seseorang yang dibenci? Lahir dari rahimku?
Sambil menunggu giliranku mandi, aku duduk bersandar di kasur. Aku memejamkan mata sejenak, cukup melelahkan beberapa hari belakangan, apa lagi hari ini. Walau menerima, tentu saja aku kepikiran. Aku juga masih terbayang-bayang akan Kak Elang.
"Malah tidur."
Aku membuka mata mendengar suara sinisnya Rakha. Aku mendapati lelaki itu menatapku sambil mengeringkan rambutnya, telah mengganti pakaian.
"Udah kamu baca belum isinya?"
Aku menggangguk. "Udah." Aku memegangi gaunku agar tak merosot—hendak beranjak dari tempat tidur, ingin mandi.
"Tanda tangan sekarang juga."
Gerakanku terhenti mendengar ucapan lelaki itu. Tak sabaran sekali. Dia terlihat menuju meja, kemudian berbalik ke arah dan menyodorkan sebuah ballpoint. Aku menerimanya benda tersebut, kemudian beraliha pada lembaran kertas yang aku taruh di sebelah tempat tidur. Dengan cepat, aku membubuhkan tanda tangan di sana.
"Done, Mas. Ada lagi? Ada yang ingin dibicarakan? Saya mau mandi soalnya."
"Kamu beneran udah baca semuanya?"
"Saya udah baca semua. Kenapa?"
Lelaki itu menggeleng. "Oke. Surat perjanjian ini bersifat mengikat, dan kamu nggak boleh melanggar. Nanti copy-annya akan saya berikan kepada kamu. Agar kamu selalu ingat."
"Enggak usah, Mas. Saya sudah hapal di luar kepala. Lagi juga, saya nggak berniat membantah apa pun kecuali urusan mobil saya. Untuk yang satu itu, saya enggak mau menuruti permintaan anda untuk menjual. Itu bukan mobilnya keluarga, tapi miliknya saya yang nggak akan pernah berpindah tangan kepada siapa pun."
Perihal mobil, Rakha tak membahas lagi setelah hari itu. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu.
"Mobil sialan itu, segitunya kamu pertahanin? Saya bahkan bisa membelikan kamu yang jauh lebih bagus dari itu."
Membelikan mobil baru yang jauh lebih bagus? Buat apa? Lagi juga, mobilnya Kak Elang tak akan terganti oleh mobil semahal apa pun. Kenangan mobil itu yang tak akan bisa aku lupakan, akan selalu aku jaga.
"Enggak usah. Buat apa kamu membelikan mobil untuk seseorang yang kamu benci? Sayang-sayang uangnya." Aku tersenyum. "Mending kamu investasi atau beli sesuatu yang bermanfaat untuk kamu. Dan tentang mobil saya, mau sekeras apa pun kamu memaksa, tetap nggak akan membuat saya berubah pikiran."
"Mobil itu hasil dari kerja keras kamu?"
Aku menggeleng. Aku tak harus menceritakan tentang pemilik sebenarnya mobil itu kepadanya, sama sekali tak penting untuk diceritakan. "Kamu nggak perlu tahu apa-apa. Cukup satu hal yang perlu kamu tahu, jika mobil itu sangat lah berharga bagi saya melebihi apa pun."
Terdengar dengusan dari lelaki itu, biar saja. Apa yang Kak Elang tinggalkan, tak akan pernah aku buang dalam hidupku. Seperti namanya yang selalu ada di dalam hatiku. Meski aku telah resmi menjadi istri seseorang, bukan berarti aku melupakan sosok Kak Elang. Aku tak mencintai Rakha, akan tetapi aku akan berusaha menjadi istri yang taat kepada suami meski diperlakukan tak adil. Bagaimana pun, ridhoku ada pada suamiku saat ini.
"Ada yang ingin dibicarakan lagi, Mas? Kalau nggak, aku mau mandi dulu."
"Mandi aja."
Aku mengangguk.
Di dalam kamar mandi, aku membasahi seluruh tubuhku di bawah shower dengan air hangat. Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan isi kepalaku yang berisik. Yang terlihat tenang di luar, akan tetapi berisik di dalam. Tak ada lagi tempat berkeluh kesah. Meski waktu itu Inka memintaku untuk bercerita apa pun, tetap aku tak bisa menceritakan bagaimana sikapnya Rakha padaku. Aku tebak, dia akan murka jika aku bercerita kepada orang lain.
Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
Nikmati rasa sakitnya, hingga terbiasa dan tak merasakan apa pun.
***
Aku sama sekali tak merasa deg-degan berada di dalam kamar yang sama dengan Rakha. Entah malam ini dia langsung ingin meminta haknya atau tidak, aku sudah sepasrah itu. Menjadi istrinya, tentu aku wajib melayaninya dalam segala hal, termasuk dalam urusan ranjang pun. Meski tak ada cinta pun, aku harus melakukannya. Sekali pun tak ada surat perjanjian itu.
Menurut cerita, katanya laki-laki bisa berhubungan badan tanpa menggunakan perasaan. Tidak tahu bagaimana Rakha, yang pasti dari yang apa yang tertulis, lelaki itu sepertinya ingin memiliki anak. Sedikit desas-desus sekilas yang aku dengar, kakeknya Rakha mempercayakan perusahaan miliki keluarga itu kepada Rakha dengan syarat Rakha menikah dan memiliki anak.
Di dalam kamar, hanya ada aku saat ini sedang mengeringkan rambut. Rakha sepertinya berada di balkon kamar melihat pintu ke arah sana yang terbuka begitu aku keluar dari kamar mandi barusan. Aku menggunakan piyama tidur selutut.
Dari kaca, tatap mataku tertuju pada Rakha yang baru saja memasuki kamar. Aku belum selesai mengeringkan rambut, sedikit lagi. Sudut mataku menangkap sosok Rakha yang menuju tempat tidur, lalu dia merebahkan diri di sana.
"Kita besok langsung pulag ke rumah. Lusa saya langsung masuk kerja."
"Iya." Tak ada honeymoon, Rakha telah bilang dari jauh hari. Tak akan ada yang spesial dengan pernikahan kami. Aku pun tak mengharapkan apa pun juga.
"Kamu sendiri gimana?"
"Saya cuti, Mas. Saya mau beres-beres rumah dalam 2 hari ke depan, sekalian belanja bulanan."
"Oke. Emm... malam ini kamu tidur di sofa aja. Saya belum ada keinginan untuk menyentuh kamu, nggak ingin berada di ranjang yang sama dengan kamu."
"Ya, aku mengerti." Mau menyentuhku atau tidak malam ini, aku tak mempermasalahkan. Suka-suka dia saja.
"Tapi, saya pasti akan menyentuh kamu nanti. Karena saya menginginkan kehadiran seorang anak. Kamu harus selalu bersiap nantinya, kapan pun saya mau nyentuh kamu."
"Iya."
"Jangan kepedean juga kamu nantinya. Laki-laki itu bisa berhubungan badan dengan seseorang yang dia benci sekali pun, nggak cinta."
"Saya mengerti. Saya nggak akan berharap sebuah cinta muncul di antara kita. Saya sadar siapa diri saya di sini, berada di sisi kamu. Tapi, saya akan menjalani hubungan pernikahan kita dengan sungguh-sungguh, meski pun kamu begitu membenci saya."