Bab 12 — Menikah

1161 Kata
Rakha's PoV Aku meremas jemariku, mondar-mandir dari tadi di dalam kamar hotel. Kenapa aku gugup sekali rasanya? Aku bukan akan menikah dengan orang yang aku cintai, melainkan dengan orang yang sangat kubenci, tapi kenapa gugup begini? Dia tak akan menjadi istriku selamanya. Akan aku buang setelah merasa puas membalas dendamku, harusnya aku biasa saja saat ini. Tidak perlu gugup akan melangsungkan proses pernikahan yang akan dimulai kira-kira 1 jam lagi. Aku menoleh begitu mendengar suara pintu kamar diketuk. Begitu aku membuka pintu, tampak papa berdiri di depan pintu. "Papa boleh masuk?" Aku mengangguk. Aku menggeser tubuhku ke arah samping—memberikan jalan masuk kepada papa, lalu menutup pintu. Kemudian melangkah ke arah papa yang telah duduk di kursi kamar. Terdengar helaan napas dari papa begitu aku berada di dekatnya. "Kha, apa kamu yakin untuk melanjutkan pernikahan ini?" tanya papa membuatku terkejut. Dulu awal-awal papa pernah bertanya dan aku kira tak akan membahasnya lagi. Malah bertanya sekarang di saat acara akan dimulai sebentar lagi. "Nggak apa-apa semisal mau membatalkan juga. Akan malu sebentar aja dan nggak masalah kerugian itu. Papa akan ganti berapa pun banyaknya yang udah kamu keluarkan." Aku menggeleng. "Aku tetap akan melanjutkannya—menikahi perempuan itu." "Apa kamu yakin nanti bisa mencintainya? Mencintai seseorang yang secara nggak langsung menjadi penyebab meninggalnya Ella?" "Papa nggak perlu mikirin akan bagaimana aku menjalani ke depannya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Aku tentu tak akan bilang jika memiliki niat untuk membuang perempuan itu suatu saat nanti jika sudah waktunya. "Kasian anak orang jika kamu hanya berniat mempermainkan pernikahan ini. Gimana pun, papa dan mama ingin kamu hanya menikah sekali seumur hidup, kecuali dipisahkan oleh kematian." "Hmmm." "Kamu sangat keras kepala sekali." "Maaf, Pa. Tapi aku akan tetap dengan keinginanku, tak akan mengubah apa pun." "Ya sudah. Papa dan mama cuma bisa berdo'a yang terbaik untuk kamu—pernikahan kamu. Semoga kamu enggak menyesal dengan keputusanmu ini. Keputusan yang Papa rasa, kamu ambil dalam keadaan emosi. Tapi, Papa nggak bisa bicara apa-apa lagi kalau keputusanmu udah bulat. Semoga seiring berjalannya waktu, kamu bisa tulus kepada perempuan itu. Ayu, Papa bisa melihat jika dia merupakan perempuan yang baik." Perempuan yang baik tak akan berkata kasar—menghina fisik orang, bahkan menyuruh orang itu untuk berkaca. Papa tidak tahu saja aslinya perempuan itu. Bisa jadi dia menggunakan topeng selama ini menghadapi orang-orang di sekitarnya untuk menarik perhatian agar iba padanya. Wajahnya sok-sok'an terlihat lugu segala, padahal dulu sangat cheerful di sekolah. Banyak omong—heboh di mana saja. "Meski Papa melihat mamanya Ayu itu agak aneh, tapi Papa rasa Ayu itu berbeda. Mama kamu suka sekali sama dia. Ayu nggak jauh berbeda dari Ella, mungkin itu yang membuat mamaku suka." Aku tersenyum sinis di dalam hati. Membandingkan Ayu dengan Ella? Tentu saja berbeda. Ella tak ada pernah mengeluarkan kata-kata menghina ketika ada seseorang yang aku tahu menyukainya di kantor. Sebelum aku memutuskan untuk mendekatinya. Dia tolak baik-baik lelaki itu, tidak seperti Ayu yang mengeluarkan kata-kata buruk. Attitude Ella itu bagus. Meski tak mencintainya, aku cukup nyaman berada di dekatnya. Ayu hanya memiliki kelebihan parasnya saja, cantik memang. Harus aku akuin jika kecantikan perempuan itu tak memudar dari zaman sekolah. Hanya saja, apa gunanya cantik saja jika attitude-nya tak bagus? Selesai berbicara dengan papa, sudah waktunya aku menuju ballroom. Menit berlalu, dalam satu tarikan napas akhirnya aku sudah resmi menikahi orang yang menghinaku dulu itu. Aku berdiri setelahnya, menunggu perempuan itu yang saat ini melangkah ke arahku dengan adiknya. Adiknya yang terlihat centil dan aku tak suka. Aku tak menampik jika Ayu saat ini bertambah cantiknya menggunakan kebaya. Semakin dekat, semakin terlihat jelas kecantikan perempuan itu. Aku menghela napas. Andai dulu tak ada hinaan itu, akan aku pertimbangkan untuk jatuh cinta lagi padanya. Aku menggeleng cepat. Kenapa berpikiran untuk jatuh cinta lagi kepada pembunuh Ella? Calon istriku sesungguhnya? Ayu menyalamiku—membawa tanganku ke wajahnya dan menciumnya. Aku menahan gejolak emosi. Perempuan itu terlihat lembut di hadapan banyak orang. Dengan terpaksa, aku menunduk dan mencium kening perempuan itu agar para kerabat dan tamu yang hadir tak berpikiran sembarangan. “Welcome to the hell, Ayu.” Perempuan itu mendongak—menatapku dengan tatapan sayuh, dan aku menatapnya balik dengan menyunggingkan senyuman sinis. Tak akan aku buat hidupnya enak bersamaku. Selanjutnya, saling memakaikan cincin di jemari kami masing-masing. *** "Wah, cantik sekali istrinya Pak Rakha ini.” “Cocok sama Pak Rakha, cantik dan ganteng.” Banyak pujian yang aku dengar sejak pagi tadi hingga acara resepsi malam ini. Memang sebelumnya tak ada yang tahu aku menjalin hubungan dengan Ella hingga sudah mempersiapkan sebuah pernikahan. Tak ada yang tahu siapa calonku sebenarnya waktu itu, termasuk para karyawan di kantor. Yang niatnya baru aku beritahu saat menyebarkan undangan. Tapi, siapa sangka justru nama lain yang akhirnya menggantikan posisinya Ella pada undangan tersebut. Aku memaksakan diri tersenyum menyambut para undangan yang datang. Tak ada satu pun dari teman sekolahku, karena dulu aku dijauhi dan tak memiliki teman yang benar-benar teman. Tapi, ketika aku bertanya kepada Ayu, dia katanya tak ada mengundang teman sekolahnya juga. Aku tak bertanya panjang. Jam 9 lewat acara selesai dan aku masih mengobrol dengan rekan bisnisku. Sementara Ayu sudah menuju kamar terlebih dahulu. Memang ada kamar pengantin, yang memang telah di-booking dari jauh-jauh hari. Kami akan berada di kamar yang sama nanti, tidak setelah itu saat pulang ke rumah. Selesai mengobrol, aku pun menuju kamar kami. ‘Kami?’ Kenapa rasanya agak aneh saja. Suatu hal yang tak pernah aku bayangkan dalam hidupku, memaksa orang yang aku benci untuk aku nikahi. Saat pintu kamar terbuka dari dalam, terlihat Ayu sudah menghapus riasan di wajahnya, akan tetapi masih menggunakan gaun pengantin. Aku melewati perempuan itu begitu saja dan mengambil pakaian gantiku di dalam koper. “Mas… “ “Apa?” “Saya bisa minta tolong sesuatu?” “Apaan?” “Bi-sa minta tolong bukain resleting gaun saya? Tangan saya nggak sampai, kecil juga resletingnya. Maaf, saya nggak bermak— “ “Balik badan!” Perempuan itu berbalik badan sambil memegangi rambutnya yang panjang. Aku menahan napas di kala tanganku membuka resleting gaun tersebut. Terlihat kulit punggungnya yang begitu putih. Jemari tanganku tak sengaja menyentuh punggung tersebut dan lembut sekali terasa. Tersadar, aku menggeleng cepat dan segera berlalu menuju kamar mandi. Aku mengumpat, bisa-bisanya pikiranku traveling ke mana-mana. Aku memang berniat menghamilinya agar kakek memiliki cucu, akan tetapi aku butuh waktu. Ingat akan apa yang telah terjadi, aku marah rasanya. Sebelum memasuki kamar mandi, aku ingat sesuatu. Malam ini juga, aku harus memberitahu suatu hal kepadanya. Aku kembali berbalik badan, lalu menuju koperku. Aku meraih sebuah kertas dari dalam sana. “Kamu nggak jadi mandi, Mas? Kalau nggak, biar saya yang duluan.” “Saya yang akan mandi lebih dulu dan kamu ingin segera istirahat,” ujarku berbalik badan sambil berjalan ke arahnya. Aku menyerahkan selembar kertas kepadanya, “baca ini.” “Apa ini, Mas?” “Hal-hal yang nggak boleh dilanggar, yang harus kamu turuti tanpa boleh ada bantahan. Silahkan kamu pahami terlebih dahulu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN