Bab 20 —Tiada Iba

1148 Kata
Rakha's PoV Tak menampik, Ayu memang cantik sebadan-badannya. Tak hanya wajahnya, tapi tubuhnya juga yang putih mulus dan bersih. Entah bersih setelah perawatan atau memang dari sananya. Aromanya tubuhnya juga memabukkan, mungkin ini karena usai melakukan perawatan? Aku mengumpat di dalam hati berkali-kali, merasa sangat-sangat b*******h terhadapnya. Tak puas rasanya mencumbu perempuan itu hanya sekali dua kali saja, yang aku yakin setelah ini akan sering melakukannya. Apa perempuan itu sebelumnya tak pernah berpacaran? Atau punya, tapi tak pernah melakukan kontak fisik dengan pasangannya? Reaksi tubuhnya terasa kaku sekali begitu aku sentuh. Perempuan itu tak mengeluarkan desahan sama sekali juga, mungkin tengah menahan? Aku juga sebenarnya tak maniak. Pernah sekali pacaran sesama pelajar asal Indonesia juga, tapi tak pernah aneh-aneh . Just kissing, not more. Ini juga yang pertama bagiku, dan aku ingin perempuan itu segera mengandung darah dagingku. Dia menatapku dengan muka memelas saat aku bersiap akan menyatukan tubuh kami. Sayang sekali, aku tak peduli bagaimana pun ekspresi wajah perempuan itu. "Nggak bisa jawab, 'kan?" Aku terkekeh. "Kamu cuma akan kehilangan keperawanan, yang nanti juga lama-lama kamu akan merasakan kenikmatan. Sakit di awalnya aja. Nggak sebanding dengan apa yang Ella rasakan saat itu, sampai akhirnya dia menghembuskan napas terakhir. Jadi, kamu nggak pantas protes atas rasa sakit yang enggak seberapa itu." "Do whatever you want to do, Mas." Perempuan itu tersenyum merespon ucapanku. Apa maksudnya tersenyum begitu? Barusan memintaku untuk pelan-pelan saja, sekarang seolah pasrah begitu. Cepat sekali berubah. Meminta dikasihani? Tak akan aku terpengaruh. Aku tak menyahut. Bagaimana pun reaksi dan kata-kata yang keluar dari mulutnya, tak akan mengubah apa pun. Aku akan tetap lanjut melakukan lebih. Aku melebarkan pahanya. Tanpa aba-aba, aku mulai mendorong masuk milikku. Terdengar pekikan dari perempuan itu, padahal milikku belum bisa masuk. Susah. Dia... masih perawan. Si sombong itu ternyata bisa menjaga dirinya. "Sa-kitt, Mas." "Saya nggak akan berhenti. Saya nggak bisa berhenti." Aku menatap tajam padanya. Aku kembali mencoba mendorong kembali hingga akhirnya bisa masuk seutuhnya diiringi pekikan dari Ayu. Tampak lelehan air matanya dari kedua sudut matanya, dan aku langsung membuang pandangan ke arah lain. Tak boleh kasihan. Tak boleh luluh oleh bagaimana pun reaksinya. "Sa-kit banget, Mas. Nggak... saya nggak la-gi akting." Aku menulikan pendengaranku. Yang dia rasakan, tak ada apa-apanya dengan yang Ella rasakan. Tak bisa dibandingkan. Yang begini katanya hanya sakit pada awalnya saja bagi perempuan. Setelah, tak ada lagi rasa sakit, melainkan kenikmatan. Tapi, aku tak akan membiarkan perempuan itu menikmatinya. Mengabaikan rintihannya, aku mulai bergerak. Aku sangat b*******h dan akan menuntaskannya. Dan ya, tujuan utamaku ingin menanam benih pada rahimnya agar segera hamil. Walau tak ada cinta, aku tetap butuh keturunan. Aku terus bergerak dan tanganku menyentuh bagian tubuhnya di mana pun. Aku juga mencumbunya lagi dan lagi. Bibirnya begitu membuatku candu, ingin terus merasakannya. Semua bagian tubuhnya, aku suka. Perempuan itu agak kurus, tetapi bisa mengbangkitkan gairahku. "Menahan desahan, huh?" Aku menyeringai melihatnya yang sama sekali tak mengeluarkan desahan juga. Perempuan itu menggeleng, tanpa mengeluarkan suara. "Lihat saya!" Aku meraih dagunya saat perempuan itu berulang kali mengalihkan pandangan ke arah lain. Ada rasa puas yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata saat ini. Perempuan yang dulunya menghinaku, sekarang takluk padaku tanpa bisa melawan. Bahkan, aku yang menjadi pertama segalanya bagi perempuan itu. Aku berhasil membuatnya tak berdaya di bawah kungkunganku. Tak lagi terlihat kesombongan di wajahnya. Tak lagi ada kata-kata kasar. Sangat puas melihatnya tak berdaya begini. "Gimana rasanya, hmm? Enak? Sakit?" Dia tak juga bersuara. Aku tersenyum sinis menatap wajah cantik yang dulunya begitu angkuh itu. Kemudian, kembali menunduk kepala—meraup bibirnya dengan menindih tubuhnya tanpa menahan tubuhku. Aku menyukai bagaimana kulitku bersentuhan dengannya tanpa penghalang apa pun. Ini rasanya begitu nikmat, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hati memang membenci, akan tetapi tubuhku membutuhkannya. Dulu aku begitu memuja keindahan fisiknya yang tak terbayang dulu itu akan bisa aku rasakan. Hanya bisa mengagumi dalam diam. Ada pun aku mengungkapkan perasaanku waktu itu, agar hatiku legah saja telah menyampaikan perasaanku. Tak berani bermimpi juga akan dibalas olehnya. Siapa sangka jika penyampain perasaanku itu dibalas dengan sebuah hinaan. Aku mencium perempuan itu menggebu-gebu, ingat akan dulu membuatku meluapkan emosi. Hingga aku semakin-makin b*******h dalam posisi intim begitu dengan masih mencium bibirnya. "Ayu... akhhhhhh!" Aku mengerang kencang dan menumpahkan cairanku. Aku merebahkan wajahku pada ceruk lehernya. Mengatur deru napasku yang tak beraturan, terdengar juga deru napasnya. Aku baru beranjak dari atas tubuhnya beberapa saat kemudian. Aku menoleh sekilas ke arah sprei, sebelum menuju kamar mandi di dalam kamar ini. Lalu beralih ke arahnya yang tampak memejamkan mata. Dia terlihat lemas sekali. Aku menggeleng. Kenapa harus iba? Sudah tugasnya sebagai istri untuk melayani hasratku, hamil darah dagingku. Lagi, dia kan hanya merasakan sakit di awal saja. Setelah membersihkan diri, aku keluar dengan hanya memakai celana dengan atasan tak mengenakan apa pun. Terlihat Ayu saat ini sudah menarik selimut menutupi tubuhnya hingga ke bagian leher. Perempuan itu tampak sedang... melamun? "Bersihkan badan kamu sekarang!" Perempuan itu menoleh ke arahku. Aku memakai kaosku lagi dan duduk di pinggir kasur menghadap ke arahnya. "Kenapa?" Dia menggeleng. "Kesal? Mau marah?" "Enggak." Dia tengah mendudukkan diri dengan memegangi selimut. “Saya enggak berani kesal, apa lagi marah.” Aku merotasi mataku. "Kenapa ditutupi? Saya udah lihat semua dan rasain, apa gunanya kamu tutupin begitu?" Ayu tak menjawab. "Saya ke kamar mandi dulu. Kamu masih mau di sini?" tanyanya mengalihkan yang terdengar mengalun lembut. Dan itu membuatku mencebikkan bibir. Kesal ya kesal saja, sok-sok'an berucap lembut begitu. Dikira aku akan luluh dengan dia lembut nada bicaranya? "Ya, saya masih akan di sini. Nanti saya mau kamu lagi. Jadi, kamu harus mempersiapkan diri lagi untuk ronde kedua." "Oke, Mas." Dia mulai melangkah ke arah kamar mandi dan tampak tertatih-tatih. Aku sama sekali tak berminat membantunya. *** Aku terbangun dengan posisi tanganku yang melingkari tubuhnya Ayu. Tengah malam tadi, aku kembali menyentuhnya untuk kedua kalinya. Sebelumnya, aku membiarkan perempuan itu tertidur dan membangunkannya untuk melayaniku. Dia harus siap kapan pun aku ingin menyentuhnya. Aku melepaskan tanganku yang melingkari perut perempuan itu. Tanganku beralih, menyentuh helaian rambut yang sedikit menutupi wajah perempuan itu. Aku menatap lekat-lekat mata yang masih terpejam itu. Andai saja dulu kata hinaan itu dulu tak terlontar dari mulutnya dan tak ada kecekalaan itu terjadi, mungkin aku... Aku menggeleng cepat. Menarik tanganku dari wajahnya ketika merasakan pergerakan dari perempuan itu. Aku berdehem keras. "Bangun!" desisku dingin. Terdengar lenguhan dari perempuan itu. Aku menepuk-nepuk bahunya. "Bangun, hey?" Perempuan itu perlahan membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjap. "Buruan bangun! Udah jam 7, siapin keperluan saya dan sarapan juga." "Jam 7?" Aku berdecak. "Makanya, buruan bangun! Kamu jangan lupa tugasmu sebagai istri. Nggak cuma melayani kebutuhan seksual saya aja. Tugasmu yang lain mengurus kebutuhan saya, membersihkan rumah dan juga memasak jangan kamu lupain begitu aja mentang-mentang semalam udah kasih saya kepuasan." "Sebentar." Perempuan itu memejamkan matanya kembali. Aku beranjak dari tempat tidur. "Jangan lama-lama! Mau gimana pun, kamu harus mengerjakan semuanya, tanpa alasan apa pun." "Iya, Mas. Saya mengerti."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN