Ayu's PoV
Aku bersyukur karena orang tua dan kakeknya Rakha menyambut hangat kedatanganku. Selang seminggu setelah bertemu orang tuanya, Rakha membawaku ke rumah kakeknya dan sambutan beliau tak jauh berbeda dari kedua orang tuanya Rakha. Jadi, meski sikap Rakha padaku semena-mena, masih ada keluarganya yang adem. Yang tak menyalahkanku, tidak merendahkanku. Mereka orang kaya, tapi tahu caranya memperlakukan manusia dengan baik.
Sekilas mendengar dari Inka seputar Ella—calon istrinya Rakha yang tak sengaja aku tabrak itu, rupanya dia juga sederhana orangnya. Anak panti yang tinggal sendiri dan merupakan karyawan di perusahaan yang dipimpin Rakha. Dia diterima dengan baik oleh keluarganya Rakha. Intinya, keluarganya Rakha itu baik dan Rakha sendiri juga katanya baik. Hanya saja, dia marah padaku terhadap apa yang menimpa calonnya itu.
"Gimana perlakuan Kak Rakha ke kamu, Yu?" tanya Inka suatu hari. Aku memang rutin menjalin komunikasi dengan sepupu dari Rakha itu.
"Biasa aja." Aku tersenyum tipis.
Inka menatapku dengan mata menyipit, seolah tak mempercayai jawabanku.
"Yakin? I mean, Kak Rakha itu aslinya baik. Cuma, ini agak mengganjal aja bagi aku. Dia tiba-tiba mau menikahi seseorang yang, sorry, menjadi penyebab calonnya meninggal. Kalau ada apa-apa, cerita aja sama aku. Meski aku sepupunya dia, tapi aku akan marah semisal dia perlakuin kamu nggak baik."
"Wajar sebenarnya dia marah, aku memaklumi. Sangat-sangat wajar untuk orang yang kehilangan seseorang untuk selamanya."
"Di-a... apa dia kasar sama kamu? Walau kelihatan dia baik selama ini, aku sebenarnya agak sorry. Takut dia berubah gara-gara apa yang menimpa calonnya itu."
Aku menggeleng. Memang tak ada perlakuan kasar secara fisik. Hanya kata-kata dan sikapnya saja yang terlihat sengaja menyerang mentalku. Aku juga paham kenapa dia seperti itu.
"Jangan sungkan untuk cerita ya, Yu. Kamu bisa cerita apa pun sama aku. Kan kita bakalan jadi keluarga juga. Kalau mau ketemu aku tanpa kepentingan pernikahan, boleh, kok."
Aku tersenyum. Merasa punya teman baru setelah sekian lama tak percaya akan pertemanan yang tulus. Aku yang pernah ditinggalkan saat keluargaku sedang jatuh. Dan pada masa kuliah, ada segilintir orang yang mendekat padaku karena parasku. Ingin menarik perhatian para lelaki yang menyukaiku.
Dan saat ini mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Inka, aku ingin percaya sekali lagi. Dan semoga aku beruntung. Tak ada sebelumnya teman yang berucap seperti Inka begini padaku. Sekarang posisiku sedang sulit, tapi Inka seolah berada di sisiku untuk membela jika terjadi sesuatu buruk kepadaku.
Selain orang tua dan kakeknya, sepupu Rakha yang bernama Inka itu juga sangat baik. Pertama bertemu, first impression-nya baik. Dia bahkan berkali-kali bertanya padaku, apa aku yakin akan menikah dengan sepupunya itu. Aku menjawab jika yakin, karena memang aku tak punya pilihan. Mengikuti saja akan bagaimana alur ke depannya. Ketika aku berkali-kali berdo'a pun, tak tahu kenapa tetap saja muncul bayangan lelaki yang baru aku kenal itu.
Hari ini adalah fitting baju pengantin untuk terakhir kalinya. Tidak ada bentuknya yang dirubah, ukuran badannya Ella ternyata sama sepertiku. Akan tetapi, pada akhir-akhir ini, aku agak kurusan dan sepertinya akan sedikit diperkecil tanpa mengubah motifnya.
“Tetap cantik, cuma perlu sedikit diperkecil atau kamu mau sedikit menambah berat badan?” tanya pemilik butik padaku. “Agak stress, ya?”
Aku hanya tersenyum tipis meresponnya. “Dikecilin sedikit aja, takutnya saya nggak bisa naikin berat badan. Tapi, nggak masalah kalau kayak begini juga sebenarnya. Nggak harus nge-pas banget.”
“Emang pada dasarnya kamu ini udah cantik, fine-fine aja sebenarnya. Tapi akan lebih bagus lagi kalau pas dengan ukuran tubuh kamu.”
“Gimana yang terbaiknya aja.”
“Oke. Coba kasih lihat dulu sama calon suami kamu. Ayo!” Pemilik butik tersebut menuntunku keluar sebuah ruangan menuju di mana Rakha berada.
Aku ingin mengelak saja rasanya. Mau bagaimana pun penampilanku, Rakha pastinya tak akan peduli. Aku hanya sebagai mempelai pengganti, tak lebih dari itu.
Tiba di hadapan Rakha yang duduk di sofa dengan kepala menunduk dan ponsel di tangannya, aku menggigit bibir bawahku. Penasaran reaksinya, tak akan peduli atau marah karena seharusnya Ella yang dia lihat menggunakan gaun ini.
“Mas Rakha, gimana gaun yang dipakai sama Mbaknya?”
Pandangan Rakha beralih dari ponsel menatap ke arahku. Lelaki itu tampak menatap lurus padaku, tanpa senyuman sama sekali seperti biasa. Lalu, “oke. Nggak ada motifnya yang diubah, ‘kan? Sesuai dengan yang awal?”
“Iya, Mas. Cuma ini akan sedikit dikecilkan karena Mbak Ayunya agak kurusan.”
“Ooh. Oke.”
“Nggak mau difoto dulu, Mas?”
“Enggak perlu.”
Mana penting baginya proses sebelum menikah dengan pengganti.
Aku langsung memutus kontak mata kami. Segera berbalik badan ke ruang ganti setelahnya, merasa cukup sudah menunjukkan gaun pernikahan yang akan dipakai saat acara resepsi. Untuk kebaya, sudah last fitting juga kemarin.
Usai berganti pakaian, kami langsung beranjak pergi dari sana. Akan ada technical meeting dengan pihak EO. Mama dan adikku juga turut hadir di sana nanti.
“Mama dan adek kamu udah jalan?” tanya Rakha ketika kamu sudah berada di dalam mobil.
“Baru mau jalan, barusan chat’an.”
“Oke.”
“Surat numpang nikah udah nggak ada kendala lagi waktu itu, ‘kan?”
“Udah semua. Emm… Mas, aku sekedar info kalau papaku nanti nggak bisa nikahin aku. Papa sakit, nggak bisa ngomong dan terbaring lemah di rumah. Jadi, saya pakai jasa wali. Saksinya paling saudara dari mama saya.”
Padahal, semisal papa sehat pun, bisa menikahkanku atas nama wali, bukannya orang tua. Karena bukan merupakan papa kandungku. Sampai saat ini, aku tak tahu siapa orang tua kandungnya. Pernah aku mencoba mencari tahu dengan mendatangi panti tempat aku diadopsi, tetap tak mendapatkan jawaban.
“Sakit apa emangnya papa kamu?”
“Stroke dan ginjal juga.”
“Ooh.”
Aku menipiskan bibirku mendengar respon yang biasa saja dari Rakha. Berharap apa memang? Baginya, aku ini seorang pembunuh yang harus bertanggung jawab menggantikan posisi calon istrinya yang telah tiada. Jadi, apa pun tentangku dan keluargaku tak akan dipedulikan olehnya.
“Oh ya, kamu jangan bawa-bawa mobil dulu,” ujar Rakha tiba-tiba membahas hal yang lain. “Jangan cari masalah baru.”
“Iya.”
“Jual aja mobilnya, karena it— “
“Nggak bisa!” Aku langsung menyahut, reflek menggunakan nada tinggi. Mobil itu adalah salah satu kenangan paling berharga miliknya Kak Elang, tak akan aku jual sampai kapan pun. Aku akan menjaganya dengan baik, setelah kecelakaan yang menimpaku kemarin ini. “Maaf. Saya nggak akan menjual mobil itu karena sangat berarti bagi saya.”
“Tapi mobil itu sudah membuat calon istrinya saya meninggal. Saya nggak suka lihat mobil itu.”
“Kamu boleh mengatur apa pun tentang hidup saya, Mas. Tapi tidak dengan apa yang saya miliki sebelum mengenal kamu. Mobil itu, sangat-sangat berarti bagi saya. Nggak akan pernah saya jual sampai kapan pun. Meski pun kamu nggak suka, aku minta maaf karena akan membawa mobil itu ke mana-mana, termasuk ke tempat tinggal kita nanti.”
“Ganti sama mobil baru yang lebih bagus. Nanti saya belikan!”
“Kamu nggak akan ngerti, Mas,” ujarku lirih. Dia tak akan mengerti betapa aku sangat menjaga mobil itu, kecuali kelalaian saat itu. “Jadi, maaf, saya akan mengabaikan permintaan kamu untuk satu itu. Terserah kamu mau sebenci apa pun sama aku, akan aku terima.”
“Mobil itu ud— “
“Bukan sekali aja, Mas. Udah dua kali mobil itu mengalami kecelakaan, tapi saya tetap akan mempertahankannya. Marah aja semaumu, silahkan. Untuk mobil satu itu, saya nggak mau orang ngatur.”
Lelaki itu tak menyahut lagi.
Dia boleh memintaku melakukan apa pun, tidak dengan menjual mobil yang memiliki banyak kenangan itu. Setiap aku berada di dalam mobil tersebut, aku masih merasakan hawanya Kak Elang. Cintaku yang akan abadi namanya di hatiku. Yang sangat-sangat aku cintai—tak akan terganti posisinya meski dia sudah berada di alam yang berbeda.
Rakha menikahiku karena kebencian dan ingin menyiksaku, tentunya tanpa cinta di dalamnya. Kurang lebih sama denganku. Bedanya, aku tak benci padanya. Aku hanya menikah dengannya untuk melanjutkan hidupku. Entah akan bagaimana ke depannya, aku hanya mengikuti alurnya saja.
***
“Ganteng banget, Kak!!” ujar adikku, Disa, berbisik di dekat telingaku. Dia baru saja tiba dengan mama. Memang ini kali pertama dia melihat Rakha. Adikku itu kelas tiga SMA saat ini, wajar mengerti mana yang tampan dan mapan. “Kalau lo keberatan menikah sama dia. Biar gue aja yang gantiin. Dia 29 tahum, ‘kan? Ah, beda 11 tahun doang nggak masalah.”
Aku geleng-geleng kepala mendengarnya. Coba saja kalau Rakhanya mau, aku akan dengan senang hati menyerahkan lelaki itu padanya.
Rakha memasang ekspresi dingin seperti biasa. Mama dan Disa yang menyalaminya barusan, disambut tanpa senyum. Berharap apa memang?
Aku melebarkan mataku ketika Disa langsung duduk di kursi kosong sebelah Rakha. Anak itu, dia tak tahu saja bagaimana pedasnya mulut lelaki itu.
Technical meeting pun dimulai. Aku hanya diam saja mendengar sambil manggut-manggut. Paling, mama saja yang bersuara. Mama duduk di sebelah mamanya Rakha, terlihat sekali tengah berusaha mengakrabkan diri.
Tak terasa, meeting berjalan sekitar 2 jam’an. Mamanya Rakha menghampiriku yang sedang mengobrol dengan Inka. Beliau berjalan beriringan dengan mamaku.
“Habis ini, kita ke resto yuk! Makan-makan bersama, supaya lebih dekat lagi sama Ayu dan keluarganya,” ujar mamanya lelaki itu.
“Boleh.” Mama yang menyahut.
“Ayo jalan sekarang! Kita makan di Dabar Jakarta kali ya, makan seafood. Gimana menurut kamu, Kha?”
“Terserah mama.”
“Ya udah. Nanti mama dan adiknya Ayu ikut mobilnya mama aja. Kamu berdua aja sama Ayu.”
“Aku boleh ikut bareng Kak Ayu aja nggak?” Disa menyela.
“Saya nggak suka mobil saya ramai.” Rakha menyahut dingin.
Aku menatap Disa dengan gelengan kepala. Jangan sampai dia mencari masalah yang akan membuat Rakha semakin benci padaku.