"Kalian anak durhaka. Kalian tidak mau mengurus ayah kalian sendiri!" Alex memaki aku sekarang. Dia seperti salah paham padaku. Ardito mencoba untuk membuat aku tenang dan tidak emosi sekarang. "Bukan mereka yang tidak mau mengurus. Pak Iwan sudah menceritakan semuanya padaku. Anaknya yang menjadi korban karena masa lalunya." Saat kami sedang berbicara, tiba-tiba Pak Iwan datang menghampiri kami semua yang ada di sini. "Ayah." Kali ini aku menyebut namanya dan langsung memeluknya dengan sangat erat. Dulu memang aku membencinya karena tidak tahu keberadaannya. Tapi sekarang aku merasa sangat lega. "Amira." Mata Ayah kini melihat ke arah Dafi yang masih terdiam di kursi. Aku tahu pasti Dafi masih marah pada Ayah. "Dia masih marah." Aku bisa melihat wajah berat dari Ayah. Ia lalu men

