"Aku nggak apa-apa kok, By .... Serius." Kania menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha menahan gelombang rasa takut yang coba disembunyikannya. Ia tahu, kata-katanya terdengar seperti gertakan pada takdir, tapi dia tak ingin melepas beban sebelum semuanya benar-benar pasti. Edward menatap istrinya dengan mata penuh kekhawatiran yang dalam, suaranya serak karena gelisah, "Apa kamu yakin? Kalau kamu nggak mau ke rumah sakit, aku panggil dokter saja, ya. Sayang, ini bukan main-main." Namun, Kania hanya menggenggam tangan suaminya dengan erat. "Hubby, aku sudah bilang, aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir. Aku hanya butuh istirahat. Ini pasti masuk angin biasa." Suaranya bergetar, tapi dia memaksakan senyum demi menenangkan Edward. Edward menghela napas panjang, lalu menatap Kania denga

