Mobil Rafan berhenti di depan rumah dengan mesin yang masih menyala beberapa detik sebelum akhirnya dimatikan. Lampu halaman menyinari bagian depan rumah yang besar itu, membuat suasana terlihat tenang… terlalu tenang dibanding apa yang sedang dirasakan Kirana di dalam dadanya. Kirana tidak langsung membuka pintu. Tangannya masih menggenggam tas kerja di pangkuannya. Pandangannya lurus ke depan, kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di trotoar depan kantor—di tempat ia berdiri cukup lama menunggu seseorang yang tidak pernah datang. Rafan menoleh ke arahnya. “Kirana…” Namun Kirana langsung menarik napas panjang dan membuka pintu mobil. “Aku masuk dulu.” Suaranya pelan. Datar. Tidak ada emosi berlebihan. Dan justru itu yang membuat Rafan sedikit mengernyit. Ia tahu Kirana. I

