Bab 51

972 Kata

Malam sudah cukup larut ketika mobil Rafan akhirnya memasuki halaman rumah. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya lembut ke jalan setapak menuju pintu utama. Udara majlam terasa tenang, jauh berbeda dari keramaian mall dan restoran yang baru saja mereka tinggalkan. Di dalam mobil, suasana masih dipenuhi sisa tawa mereka. Kirana bahkan masih menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan tawa kecil yang belum sepenuhnya hilang. “Kamu benar-benar tidak berubah,” katanya sambil menggeleng. Rafan menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi. “Kalau aku berubah, kamu yang pertama akan protes.” Kirana mengangkat alis. “Belum tentu.” “Benarkah?” Kirana hanya tersenyum kecil. Mereka turun dari mobil hampir bersamaan. Pintu mobil tertutup pelan, dan keduanya berjalan menuju p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN